Berita Semarang
Pengamat Pendidikan Unnes Sebut Kurikulum Pembelajaran Era New Normal Belum Siap
Masa pembelajaran daring di era pandemi covid-19 bisa dibilang dalam kurikulum atau sistem pendidikan masih belum siap.
Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Masa pembelajaran daring di era pandemi covid-19 bisa dibilang dalam kurikulum atau sistem pendidikan masih belum siap.
Bahkan, ketidaksiapan itu dalam kondisi normal baru atau kenormalan baru.
Hal itu disampaikan Pengamat Pendidikan Unnes, Ali Formen PhD. Menurutnya setelah masuk tahun ajaran baru, dari segi kurikulum dan guru, apalagi dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat.
"Segi kurikulum, kalau lihat jadwal pembelajarannya kan mulai pukul 07.00 dan selesai 07.30 WIB sudah selesai.
• Mengapa Malam Ini Wilayah Jateng dan Yogyakarta Diguyur Hujan? Ini Jawaban BMKG
• Suasana Duka Selimuti Kediaman KH Ahmad Naqib Noor AH di Semarang
• Kapolresta Solo Kombes Pol Andy Rifai Diganti, Kini Dijabat Mantan Dirreskrimsus Polda Lampung
• Pegawai Swasta Ramai-ramai Buka Rekening, BCA Kudus Kebanjiran Permohonan Nasabah Baru
Sering, yang dialami di grup sekolah, banyak ketika kemudian dikirimi tugas oleh guru, tugasnya kurang menantang di satu sisi, meski memberi tugas yang sulit juga bukan pilihan," ucapnya kepada Tribun Jateng, Rabu (12/8/2020).
Ali menuturkan, artinya, dalam pemberian tugas harus variatif. Dosen pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Unnes itu menyampaikan pada kurikulum sekarang masih berbasis kertas atau paper base.
"Jadi, kemudian siswa yang cepet-cepetan ketika mengerjakan dan punya waktu istirahat yang cukup panjang. Saya kira itu mentalitas yang muncul dalam dunia pembelajaran kita," terangnya.
Dia mengungkapkan, dalam kemampuan mengajar ada variasi kemampuan guru. Dia tidak sedang menyampaikan, kemampuan satu guru dan yang lain ada yang baik atau tidak, namun hal ini juga bagian dari masalah yang sedang dialami.
"Mungkin akses guru terhadap pengembangan profesi berbeda, timpang bahkan. Sehingga muncul pula cara-cara guru memberikan layanan yang juga timpang," tuturnya.
Lulusan program doktor pada Auckland University Selandia Baru itu mencontohkan ada guru yang mampu membuat video, ada pula guru yang tidak mampu membuat video pembelajaran.
"Ada guru yang mampu mengakses platform-platform pembelajaran, ada pula yang tidak mampu mengakses," ungkapnya.
Dia mencontohkan, bila melihat di media sosial, ada beberapa aktivis pendidikan yang menyampaikan pada era revolusi 4.0 dalam dunia pendidikan ibarat kalau pagi guru kirim foto tugas, siang diminta mengirim foto hasil tugas.
"Fenomena itu mungkin tidak hanya terjadi di satu sekolah, tapi mungkin juga terjadi di beberapa sekolah. Itu kayak fenomena gunung es," terangnya.
Dia mengungkapkan, kalau melihat sekolah yang punya akses terhadap teknologi, itu akan timpang kalau melihat di daerah-daerah. Selain itu ada pula tidak semua orangtua siswa mempunyai kapasitas ekonomi yang baik untuk sekadar mengakses internet.
"Jadi, masalahnya tumpuk-tumpuk. Masalahnya berganda. Bagaimana memberikan pelayanan pembelajaran, sementara praktik kurikulumnya menghendaki aktivitas pembelajarannya masih paper dan pencil base," tandasnya. (kan)
• Pedagang Sayur di Kebumen Ini ke Masjid Hanya Untuk Curi Motor Jamaah
• KPK Minta Pemkot Salatiga Lunasi Piutang PBB Senilai Rp 15 Miliar
• Kegiatan Bintahwil Maritim Lanal Semarang, dari Bersihkan Kawasan Pesisir hingga Cegah Covid-19
• Ketua Kwarcab Banyumas Pimpin Ziarah ke Makam Tokoh Pramuka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pengamat-pendidikan-unnes-ali-formen-phd.jpg)