Pendidikan Militer
Tafsir Menilai Pendidikan Cinta Negara Tak Harus Militeristik
Meski bertujuan menanamkan jiwa nasionalisme serta kedisiplinan, wacana pendidikan militer di perguruan tinggi mendapat beragam respons.
Penulis: budi susanto | Editor: moh anhar
Tafsir Menilai Pendidikan Cinta Negara Tak Harus Militeristik
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Provinsi Jateng ikut bersuara menanggapi wacana Kementerian Pertahanan (Kemhan) terkait dunia pendidikan. Meski bertujuan menanamkan jiwa nasionalisme serta kedisiplinan, namun PW Muhammadiyah Provinsi Jateng tak sepakat jika model pendidikan tersebut berkarakter militeristik.
Tafsir, Ketua PW Muhammadiyah Provinsi Jateng, mengatakan, penanaman nilai kedisiplinan menjadi bagian penting dari pembentukan karakter penerus bangsa.
"Memang penting menanamkan nilai kedisiplinan ke penerus bangsa, tapi perlu dicari rumusan modelnya dan tidak harus berkarakter militeristik," paparnya, Selasa (18/8).
Dilanjutkannya, penggunaan istilah pendidikan militer juga harus dipertimbangkan dalam wacana tersebut.
"Menurut saya istilah pendidikan militer juga kurang pas, dan harus dicari istilah lain agar tidak terlalu militeristik, misalnya pelatihan kedisiplinan mahasiswa atau lainya yang lebih mudah dipahami tujuannya," imbuhnya.
• Kamal Ingin Tanam Nasionalisme Pakai Cara Lebih Menarik Tanpa Harus Ikut Terapkan Pendidikan Militer
• Mahasiswa Wajib Ikut Pendidikan Militer Satu Semester, Anggota DPR Setuju
Terpisah, Dewan Pendidikan Provinsi Jateng juga menyerukan, hendaknya dalam merumuskan wacana sudah disiapkan komponen pendukung secara matang, dan program yang diwacanakan tidak menjadi alat politik.
"Wacana itu perlu dirumuskan secara komprehensif, dengan harapan dapat menciptakan generasi penerus bangsa dengan akar nilai kebangsaan kuat. Namun perlu diperhatikan program tersebut tidak menjadi alat politik sesaat," kata Ngasbun Egar, Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jateng.
Dilanjutkannya,dalam perumusan wacana pendidikan militer muatan pendidikan untuk meningkatkan soft skills ke mahasiswa, jangan sampai menggeser muatan hard skills yang selama ini dirasa kurang maksimal.
• Kementerian Pertahanan Wacanakan Pendidikan Militer Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi
"Perlu langkah bijaksana dan strategis dalam merumuskan kurikulum pendidikan tinggi yang mampu mengembangkan soft skills sekaligus hard skills secara maksimal, tak terkecuali dalam wacana masuknya pendidikan militer ke kampus. Sehingga mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa mendapatkan kompetensi utuh dan tertanam nilai nasionalisme," ucapnya.
Ia menambahkan, lunturnya nilai nasionalisme sangat membahayakan bagi keutuhan bangsa, karena Indonesia dikenal dengan nilai-nilai luhurnya yang selama diandalkan.
"Meski demikian pendidikan wajib militer atau apapun namanya dengan tujuan meningkatkan nilai cinta tanah air dan kedisiplinan perlu dikemas secara baik, lewat regulasi dan kurikulum yang matang, agar tercapai sasaran seperti yang diharapkan," tambahnya. (budI susanto)