Minggu, 10 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Parenting

Sudah Cukup Usia Berjalan, Tapi Ternyata Anak Belum Bisa Berdiri Tegak, Cek Bayi Anda Normal?

Cemas karena anak yang sudah saatnya bisa berjalan, namun ternyata si kecil belum mampu berdiri tegak, apalagi melangkahkan kakinya.

Tayang:
Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
nakita.grid.id
Anak latihan berjalan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Cemas karena anak yang sudah saatnya bisa berjalan, namun ternyata si kecil belum mampu berdiri tegak, apalagi melangkahkan kakinya. 

Bunda tak perlu cemas. Kenali dengan baik pertumbuhan si kecil berdasarkan tingkat usia.      

Dokter Domiko Widyanto, SpA (dokter anak), menjelaskan, semua anak memiliki milestone. Milestones sendiri adalah serangkaian tahapan atau masa tumbuh kembang yang sangat penting bagi anak sejak masih dalam kandungan.

Secara garis besar, milestone anak baru lahir dimulai dari tidur terlentang. Dari sana, bayi mulai sering bergerak hingga bisa tidur miring. Akhirnya, sang bayi tengkurep.

"Lama-lama, sang bayi akan terpicu belajar mengangkat kepala dalam kondisi tengkurep. Awalnya angkat kepala, lalu jatuh lagi. Begitu seterusnya hingga tangannya mulai bisa bergerak. Biasanya, sang bayi mulai bisa untuk duduk karena otot lehernya sudah kuat," katanya kepada tribunjateng.com.

Bayi pun sudah bersiap untuk merangkak untuk mencoba meraih sesuatu. Lalu, mencoba berdiri, merambat, berdiri secara sempurna tanpa sandaran, hingga akhirnya berjalan. Urutannya, biasanya anak umur satu bulan masih sebatas bergerak-gerak saja.

2-3 bulan mulai bisa tengkurep. 4-5 bulan sudah bisa duduk. 7 bulan duduk tanpa bantuan. 8 bulan mulai merangkak. 10 bulan mulai jalan merambat. Harusnya, di usia 12 bulan sudah mulai bisa berjalan.

Biasanya, hal yang dipikirkan para dokter anak adalah keterlambatan pada tahapan-tahapan itu. Masalah ini masuk kepada tumbuh kembang anak. Tumbuh biasanya meliputi tinggi dan berat badan atau berurusan soal asupan gizi anak. Sedangkan kembang lebih kepada kecerdasan. Kemampuan berjalan lebih kepada aspek kembang anak. Namun, dua hal itu harus berjalan beriringan. Tidak boleh berat sebelah.

Contohnya, anak dengan asupan gizi yang kurang tentu akan menghambat proses ia belajar berjalan. Maka dari itu, tumbuh dan kembang harus saling beriringan. Secara umum, ada tiga faktor yang membuat anak terlambat berjalan. Pertama dari si anak itu sendiri, kedua lingkungan, dan ketiga aktivitas.

"Faktor pertama bisa dilihat dari apakah sang anak memiliki kelainan atau penyakit tertentu, misalkan down syndrom atau penyakit yang menimpa pada bagian-bagian ototnya. Selain kelainan, ada pula dipengaruhi dari keinginan atau motivasi sang anak. Sebab, beberapa anak di tahap ini mungkin cenderung diam dan malas bergerak sehingga ada otot-otot yang belum terbentuk," papar dokter Domiko.

Lalu faktor lingkungan biasanya dipengaruhi oleh pola asuh dan motivasi orangtua. Biasanya, pola asuh yang membuat anak sering digendong dan dibuat nyaman di kursi dorong membuat anak malas bergerak. Padahal, mereka di usia segitu perlu bergerak supaya otot-ototnya terbentuk untuk bisa jalan. Kemudian faktor terakhir yakni aktivitas bisa dipengaruhi karena kebiasaan.

Sebenarnya, keterlambatan belajar jalan ini hanya bisa dihindari atau dicegah sejak baru lahir. Caranya dengan diberi stimulus oleh orangtua. Jangan hanya bergantung saja pada proses tumbuh kembang anak secara alami.

Semisal, anak di usia 1-2 bulan belum mau tengkurep. Jika kondisi seperti ini, orangtua jangan hanya diam saja dan menunggu anaknya tengkurep dengan sendirinya. Sebaiknya, orangtua berinisiatif untuk menengkurepkan anaknya. Kenapa harus tengkurep? Karena dari sini sang anak mulai belajar melatih otot-otot leher. Itu untuk persiapan sang anak belajar duduk. Sang anak sejak awal harus dari situ. Anak harus terlebih dahulu dilatih otot-otot lehernya.

Dijelaskan dokter Domiko, jika tidak dilatih tengkurep, sang anak tidak akan kuat mengangkat kepala. Apabila kepala saja tidak terangkat, otot-otot punggung, leher, dan tangan pun akan ikut tidak kuat. Untuk memberi stimulus, tengkurepkan sang anak dan beri mainan yang menarik versi anak-anak. Mainan yang menarik bagi mereka biasanya memiliki warna cerah dan ada bunyinya. Hal ini dilakukan supaya begitu anak tumbuh, ia terpicu untuk mencari tahu dan meraih mainan tersebut. Solusinya dari awal mungkin bisa seperti itu.

"Pemberian mainan juga berlaku bagi sang anak yang akhirnya mulai memasuki fase belajar berjalan. Saat si kecil mulai merambat, berikan lah mereka mainan yang menarik lagi. Prinsipnya tetap, berikan mainan yang warnanya cerah dan memiliki suara menarik. Dengan catatan, semua ini dilakukan di tempat yang benar-benar aman terhindar dari risiko apapun. Semisal lantai licin, basah, tidak ada barang-barang berbahaya (tajam), dan sejenisnya," tambahnya.

Hal yang perlu diingatkan juga dari orangtua adalah penggunaan baby walker. Sebetulnya, dari kawan-kawan dokter anak dan beberapa dokter fisiotrapi tidak menyarankan penggunaan baby walker untuk belajar berjalan anak. Alasannya, pertama, baby walker biasanya dapat menyebabkan gangguan pada otot-otot anak.

Kedua, baby walker dapat membahayakan anak. Jadi, pada saat anak memakai alat ini, si kecil bisa menggerakan kakinya kemana pun sesuka hati. Resikonya besar kemungkinan menabrak sesuatu. Bisa lemari, meja, dan lain-lain. Jika di meja yang tertabrak itu terdapat pot atau barang sejenisnya, maka benda itu bisa saja terjatuh dan membahayakan si kecil.

Itu baru risiko dari tabrakan saja. Belum lagi dari benturan di dinding yang bisa berdampak pada bagian dada dan perut si kecil. Kita tidak tahu bahayanya seperti apa dari benturan tersebut. (akhtur gumilang)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved