Menolak Berunding, Azerbaijan dan Armenia akan Berperang Habis-habisan
Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev mengesampingkan kemungkinan perundingan, sementara PM Armenia, Nikol Pashinyan mengatakan tidak ada negosiasi.
TRIBUNJATENG.COM, NAGORNY-KARABAKH - Armenia dan Azerbaijan menolak mengadakan perundingan atas konflik yang berlangsung di daerah kantong etnis, Nagorny-Karabakh. Sebaliknya, kedua belah pihak malah mengancam akan berperang habis-habisan.
Melansir Aljazeera, kedua negara pada Selasa (29/9) melaporkan adanya penembakan dari sisi lain melintasi perbatasan keduanya di bagian barat wilayah Nagorny-Karabakh yang memisahkan diri, di mana pertempuran sengit antara pasukan Azeri dan etnis Armenia pecah pada Minggu (27/9).
Insiden tersebut menandakan eskalasi konflik lebih lanjut. Konflik tersebut telah menghidupkan kembali kekhawatiran tentang stabilitas di wilayah Kaukasus Selatan, dan mengancam keterlibatan Turki dan Rusia.
Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, berbicara kepada televisi pemerintah Rusia, dengan tegas mengesampingkan kemungkinan perundingan. Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan mengatakan kepada saluran yang sama bahwa tidak ada negosiasi saat pertempuran berlanjut.
Nagorny-Karabakh adalah wilayah yang memisahkan diri di dalam Azerbaijan yang dikendalikan oleh etnis Armenia dan didukung oleh Armenia. Wilayah separatis itu memisahkan diri dari Azerbaijan dalam perang sekitar 1990-an, tetapi tidak diakui oleh negara mana pun sebagai republik merdeka.
Sumber-sumber Armenia menyebutkan, sebanyak 370 tentara Azerbaijan tewas, dan lebih dari 1.000 lainnya terluka. Sebaliknya menurut sumber Azerbaijan, korban di pihak Armenia yang tewas sudah lebih dari 1.000 orang sejak bentrokan meletus pada Minggu lalu.
Memicu ketegangan antara dua bekas negara republik Soviet itu, Armenia mengatakan sebuah jet tempur F-16 Turki telah menembak jatuh satu pesawat tempurnya di atas wilayah udara Armenia, dan menewaskan pilot. Belum ada bukti dari insiden tersebut, dan Turki membantahnya.
"Armenia harus mundur dari wilayah di bawah pendudukannya daripada menggunakan trik propaganda murahan," kata asisten pers Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan Fahrettin Altun.
Perkembangan baru ini memaksa Yerevan mengultimatum Azerbaijan. Mereka akan menggunakan peluru kendali jelajah jarak pendek Iskander buatan Rusia, jika pesawat tempur F-16 Turki terus digunakan di medan perang.
Presiden Armenia, Armen Sarkissian menuduh Turki telah membantu Azerbaijan dalam perangnya melawan Republik Nagorno-Karabakh dengan mengirim tentara bayaran, dan bahkan jet tempur F-16.
Ia menambahkan, penyelesaian konflik Nagorno-Karabakh masih dimungkinkan melalui dialog. Namun, Presiden menegaskan, bangsa Armenia tidak bisa membiarkan kembali ke masa lalu.
“105 tahun yang lalu, Kekaisaran Ottoman melakukan genosida terhadap orang-orang Armenia. Kami tidak akan membiarkan genosida ini terulang kembali, ” tandasnya.
Sejak serangan udara dan darat 29 September ke Nagorno-Karabakh, pasukan Azerbaijan tidak dapat mencapai terobosan militer baru. Padahal, militer Azerbaijan berhasil menggunakan drone tempur dan artileri untuk menghancurkan posisi dan peralatan militer Armenia.
Di darat, infanteri mekanis Azerbaijan tidak dapat mengembangkan momentumnya lebih jauh. Kerusakan besar justru mereka peroleh sebagai dampak perlawanan tentara Artsakh.
Adapun, PBB menggelar diskusi tertutup pada Selasa (29/9). Sebanyak 15 anggota Dewan Keamanan PBB menyatakan keprihatinan tentang bentrokan itu, mengutuk penggunaan kekuatan, dan mendukung seruan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk segera menghentikan pertempuran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/serangan-artileri-azerbaijan.jpg)