Sabtu, 25 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

PM Malaysia Muhyiddin Sempat Putus Asa, Desakan Mundur Makin Menguat

Muhyiddin dilaporkan sempat mempertimbangkan mundur, setelah permohonannya mendeklarasikan darurat nasional ditolak oleh Raja.

Editor: Vito
straitstimes.com
Perdana Menteri (PM) Malaysia Muhyiddin Yassin 

TRIBUNJATENG.COM, KUALA LUMPUR - Perdana Menteri (PM) Malaysia, Muhyiddin Yassin menghadapi seruan untuk mengundurkan diri pada Senin (26/10), setelah Raja menolak permintaannya untuk menyatakan keadaan darurat dalam memerangi pandemi covid-19.

Muhyiddin dilaporkan sejumlah media lokal sempat mempertimbangkan mundur, setelah permohonannya mendeklarasikan darurat nasional ditolak oleh Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah.

PM yang baru berkuasa 8 bulan merasa putus asa telah kehilangan mandat untuk memerintah setelah penolakan dari raja. Akan tetapi, politisi berusia 73 tahun itu mengurungkan niatnya setelah dibujuk untuk bertahan oleh menteri-menteri kabinetnya yang berurai air mata, lapor The Vibes pada Minggu (25/10) malam.

Ia kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintahannya menghormati keputusan Sultan Abdullah. Muhyiddin mengadakan rapat kabinet pada Senin (26/10). Dalam sebuah pernyataan pada Minggu (25/10), PM menyatakan, kabinet akan membahas penolakan Raja atas permintaannya.

Adapun, Sultan Abdullah memutuskan Malaysia tidak memerlukan darurat nasional setelah menggelar pertemuan darurat dengan sultan-sultan dari negara bagian lain.

Sultan dari negara bagian Pahang itu menilai pemerintahan Muhyiddin telah menangani penyebaran pandemi covid-19 dengan baik. Namun, Sultan Abdullah juga menyampaikan kecemasan akan melesatnya kembali kasus virus corona di Malaysia.

Ia menekankan pentingnya anggaran belanja negara yang akan diajukan ke parlemen bulan depan. Anggaran itu krusial untuk memerangi gelombang kedua covid-19 yang sedang mendera Negeri Jiran, serta menggerakkan kembali ekonomi yang masih terguncang.

Raja berusia 61 tahun itu juga meminta politisi untuk berhenti bermanuver berebut kekuasaan yang mengancam stabilitas pemerintahan. Dalam pernyataannya, ia juga meminta politisi bekerja sama kembali dengan menepikan perbedaan untuk menangani krisis kesehatan ini.

Muhyiddin telah meminta aturan darurat di tengah lonjakan baru infeksi virus corona di Malaysia dan pandemi global yang telah menghantam perekonomian Negeri Jiran.

Tetapi, para kritikus menuduh Muhyiddin menggunakan alasan untuk menangguhkan parlemen, dan menghindari ujian terhadap dukungan mayoritas parlemen yang tipis terhadapnya.

Penolakan Raja Al-Sultan Abdullah terlihat semakin mengikis cengkeraman Muhyiddin pada kekuasaan, sebulan setelah pemimpin oposisi Anwar Ibrahim mengatakan mendapat dukungan mayoritas di parlemen, termasuk dari pembelot asal aliansi yang berkuasa, untuk membentuk pemerintahan baru.

Mencari kekuatan

Para pemimpin partai lain dalam koalisi Muhyiddin dan oposisi juga mengkritik langkahnya mencari kekuatan dari keadaan darurat, dan meminta Muhyiddin untuk mundur setelah Raja menolak permintaan menyatakan keadaan darurat.

"Syukurlah, Yang Mulia Raja tidak terpengaruh oleh permainan politik yang dapat menyeret negara ke wilayah yang lebih kritis," kata Ahmad Puad Zarkashi, pemimpin senior di Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai terbesar dalam koalisi yang berkuasa, dalam postingan di Facebook. “Kesejahteraan rakyat lebih penting. Seharusnya Muhyiddin turun,” imbuh Ahmad Puad, seperti dikutip Reuters.

Anggota parlemen oposisi Wong Chen mengatakan, proposal 'jahat' Muhyiddin telah ditolak oleh Raja, dan dia harus mengundurkan diri, atau memecat menteri yang mengusulkan keadaan darurat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved