Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Thea Buat Hidup Lebih Bervariasi: Kejar Cita-cita Jadi Dokter sembari Usaha Kuliner dan Modeling

Banyak berbagai lini usaha akhirnya gulung tikar karena kondisi pandemi. Namun, usaha yang dijalankan oleh Marranatha Budi berkibar.

Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Smart Women - Marranatha Budi Setyaningsih 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjalankan sebuah bisnis di tengah pandemi memang bukan waktu yang tepat. Banyak berbagai lini usaha akhirnya gulung tikar karena kondisi ini. Namun, tidak demikian dengan usaha yang dijalankan oleh Marranatha Budi Setyaningsih ini. Baginya, kondisi saat ini justru menjadi tantangan tersendiri untuk lebih kreatif dari segi apapun.

Perempuan yang akrab dipanggil Thea ini merupakan seorang pengelola sekaligus penanggung jawab resto Ayam Godong Jeruk (AGJ) Resto ini berlokasi di Jalan Kelud Raya 14, Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Selain itu, Thea juga menahkodai usaha laundry bernama Simbok Laundry.

Tak cuma satu, ia mengelola tiga cabang Simbok Laundry sekaligus di Semarang antara lain di Setos, Candiland, dan Pamularsih. Sebenarnya, Thea bukan siapa-siapa di dua usaha yang dikelolanya sekarang. Dia baru dua bulan lebih dipercaya mengambil alih manajemen kedua usaha tersebut.

"Istilahnya takeover atau ambil alih manajemennya. Sebenarnya, saya akui mengambil alih dua usaha ini bukan di waktu yang tepat. Ini sedang dalam kondisi pandemi. Tapi saya dipercaya untuk mengelola dan meningkatkan dua usaha ini dari segi omzet dan keberlangsungan usaha," ujar perempuan berusia 37 tahun ini.

Baca juga: Fasilitasi Pemilih, KPU Akan Jemput Bola ke Pasien yang Terkonfirmasi Positif Covid-19

Baca juga: Hanya Dalam Sehari 14‎ Bencana Terjadi di Kudus

Baca juga: Sebelumnya Nur Asia, Kini Sandiaga Uno Dinyatakan Positif Corona

Thea bilang, dua usaha yang dijalankannya itu sebenarnya sudah berlangsung selama sekitar 4 tahun. Namun karena manajemen sebelumnya lumayan kacau dan sering merugi, akhirnya Thea bersama sang suami diberi amanat supaya bisnis tetap berlangsung, terutama untuk pengelolaan resto AGJ yang hampir tutup itu.

"Mungkin belajar dari banyak pengalaman, akhirnya resto ini untung dan dapat omzet yang lumayan. Aku juga heran bisa ramai sekarang padahal situasinya masih terkendala pandemi. Malah sekarang bisa dibilang cukup daripada sebelum pandemi dulu. Memang ini masih beberapa bulan dan jalan masih panjang," sambungnya lagi.

Bukan tanpa sebab anak bungsu dari dua bersaudara ini diberi kepercayaan. Ia memang sudah sejak lama berkecimpung di dunia kuliner. Bahkan, sejak ia masih berkuliah dulu. Jauh sebelum sekarang, Thea pernah memiliki usaha Kedai Kopi plus Surabi Bandung. Tak tanggung-tanggung, perempuan yang gemar memasak sejak SMA ini membuka usahanya di Aceh selama enam tahun dari 2009 sampai 2015.

Lalu, ia pun akhirnya melanjutkan usaha sekaligus kembali ke Semarang. Dara berparas manis ini pindah lantaran lebih sering berada di Kota Lumpia daripada Aceh. Ya, Thea saat itu memang banyak urusan di Semarang, salah satunya adalah menyelesaikan kuliah kedokterannya.

"Saya lulus kuliah 2013. Semakin banyak urusan di sini (Semarang), akhirnya saya pilih meninggalkan Aceh. Dulu alasannya pilih jauh-jauh di Aceh sebenarnya simpel karena di sana jarang sekali makanan Indonesia. banyaknya makanan India dan Melayu. Maka dari itu, saya coba buka kedai khas Indonesia di sana," jelas Thea yang aktif juga sebagai sekretaris di LSM Berjaya Semarang itu.

Kesibukan

Berbekal ilmu kedokteran ternyata tak melunturkan Thea dalam berwirausaha di bidang kuliner. Kembali ke Semarang, ia bukannya ingin kerja di Rumah Sakit, malah kembali mengelola sebuah kafe dan bisnis makanan Jepang berupa bento secara online. Ia memulai itu sejak tahun 2017.

Hal yang membuat Thea tak segera juga berkarir di bidang kesehatan karena memang banyaknya kesibukan. Orangtuanya pun sering menanyakan Thea ihwal keseriusan ia menjadi dokter. Sebab, selain mengelola resto, ia juga berprofesi sebagai model. Tak jarang, ia menjadi model catwalk. Berbagai salon pun sempat dimodelinya. Berbagai kesibukan itulah yang membuat orangtuanya terus bertanya.

Baca juga: Rencana Pembentukan Holding BUMN untuk Pembiayaan UMKM Disambut Positif

Baca juga: Tertopang Kedatangan Vaksin Covid-19, IHSG Berpeluang Menguji Level 6.000

Baca juga: Habis Masa Kampanye Pilwalkot Solo, Berikut Besaran Dana Kampanye Kedua Paslon

"Ya karena itu juga, alasan kenapa saya putuskan full di Semarang karena berbagai urusan itu. Seperti photoshoot, menyelesaikan kuliah, dan lain-lain. Saya kuliah cukup lama di Unissula karena sering cuti buat kerja atau nyambi gitu. Hampir sepuluh tahun lebih saya menyelesaikan program sarjana kedokteran itu," cerita warga yang tinggal di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang itu.

Thea mengaku sudah tujuh tahun vakum dari ilmu yang ditempuhnya saat kuliah dulu. Meski lebih berpengalaman di bidang modeling dan usaha kuliner, ia tetap yakin di masa mendatang bisa menjadi dokter. Bahkan ke depannya, jika bisa Thea ingin menjadi dokter sekaligus mengelola dua usaha yang dijalankannya itu.

"Tujuh tahun vakum tidak membuat saya minder dan malu untuk menjadi dokter. Saya baru-baru ini dapat panggilan untuk mengisi posisi dokter UGD di salah satu RS Swasta. Padahal awalnya daftar sebagai staf medis saja. Ternyata dipanggilnya untuk jadi dokter di UGD. Semoga saja bisa terlaksana supaya hidup saya makin bervariasi," harapnya sembari tersenyum.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved