Breaking News:

Pendidikan

Guru Besar UGM Masuk Daftar 10 Ilmuwan Berpengaruh di Dunia berkat Modifikasi Nyamuk DBD

Guru Besar UGM berhasil masuk dalam daftar 10 orang berpengaruh dalam mengembangkan sains di tahun 2020.

Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNNEWS
Nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue penyebab demam berdarah dengue 

TRIBUNJATENG.COM - Adi Utarini, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada ( UGM), berhasil masuk dalam daftar 10 orang berpengaruh dalam mengembangkan sains di tahun 2020.

Daftar tersebut dirilis oleh penerbit jurnal ilmiah internasional, Nature.

"Selamat atas pencapaian yang telah diraih.

Baca juga: Wajah Mayor Eka Tentara Gadungan Ditangkap Anggota TNI Kodim 0715/Kendal Saat Pelaku Kondisi Mabuk

Baca juga: Tak Diambil Sejak Ayu Ting Ting Terkenal, Gaji PNS Abdul Rozak Menumpuk, Segini Jumlahnya

Baca juga: Bapaknya Jenderal yang Lagi Jadi Perhatian, Kenapa Farah Pilih Jadi Anggota DPR? Ini Kisahnya

Baca juga: Istri Menolak Diperkosa Teman-temannya, Pria Ini Malah Menyiksa dan Siram Pakai Air Keras

Semoga pencapaian ini dapat meningkatkan semangat #InsanDikti untuk terus berinovasi untuk Indonesia.

Yuk #InsanDikti kita ucapkan selamat pada Ibu Adi Utarini!" tulis akun Instagram Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rabu (16/12/2020).

Sebagai Ketua Peneliti World Mosquito Program Yogyakarta, Adi Utarini menemukan terobosan biologis dalam mencegah penyakit demam berdarah dengue dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes Aegypti.

Bakteri tersebut mampu menghambat berkembangnya virus demam berdarah dengue dalam tubuh nyamuk sehingga virus tersebut terhambat dalam menulari manusia.

Terobosan itu membuat Adi dan rekan-rekan peneliti berhasil memangkas 77 persen kasus demam berdarah di beberapa bagian kota besar Indonesia dengan melepaskan nyamuk yang telah dimodifikasi untuk menghentikan nyamuk menularkan virus.

Melansir laman UGM, penelitian yang dimulai dari tahun 2011 sudah membuahkan hasil.

Setidaknya daerah yang menjadi lokasi riset penyebaran nyamuk berwolbachia di Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menurunkan jumlah tingkat insidensi kasus demam berdarah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved