Breaking News:

Book Lover

Risky Bangun Motivasi Diri untuk Hasilkan Karya Sastra

Ingin menghasilkan karya tulis di bidang sastra, contek tips dari Risky Nopi. Ia menargetkan menulis karya sastra tiap minggu.

ISTIMEWA
Book Lover - Risky Arbangi Nopi 

MEMBACA dan menulis adalah rangkaian lengkap dalam mempelajari sesuatu. Hal itu tentu berguna untuk mempertajam pemahaman agar tak mudah lupa dan pudar pada memori. Begitulah yang biasa dilakukan Risky Arbangi Nopi ketika menuangkan ide-idenya ke dalam sebuah karya sastra.

Risky, panggilannya, merupakan seorang pendidik di salah satu SMP di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tengah rutinitasnya itu, Risky biasa meluangkan waktu untuk membuat sebuah karya sastra, seperti cerpen dan puisi. Sosok anak bungsu dari empat bersaudara ini tak ketinggalan juga menggarap resensi buku yang telah dibacanya.

Berkat rutinitasnya tersebut, puluhan karya Risky bisa tayang di media cetak maupun online. Karya-karyanya tersebar di berbagai media lokal yang tak hanya berbasis di Jawa Tengah. Beberapa tulisan Risky pernah nongol di berbagai media lokal di Medan Sumatra Utara (Medan Pos), Palangkaraya KalimantanTengah (bersaksi.id), dan Kotamobagu Sulawesi Utara (Koran BMRFOX).

"Saya tipikal yang telat mengetahui jika karya saya dimuat, bahkan cenderung tidak tahu. Seringnya tahu karena diberitahu teman atau lihat ada orang posting karya mereka. Eh, di samping karya orang itu ternyata ada juga karya saya. Biasanya, karya saya yang dimuat berupa cerpen dan puisi. Beberapa kali tulisan resensi buku juga terbit," ungkap dara berusia 24 tahun tersebut.

Baca juga: Hasil Liga Spanyol Tadi Malam Elche Vs Real Madrid, Los Blancos Ditahan Imbang 1-1

Baca juga: Hindari! Ini Jalan Protokol di Kota Semarang yang Ditutup saat Malam Tahun Baru

Baca juga: Video Pelantikan Askab PSSI Pati Periode 2020-2024

Risky tak menyangka jika hingga saat ini masih banyak media yang menampung karya sastra. Dia mempergunakan media sosial dan banyak komunitas menulis untuk menghimpun info terkait media mana saja yang masih menerima karya sastra. Maka tak pelak, tulisan Risky bisa nangkring di berbagai media. Info tersebut lantas memicu Risky juga untuk terus berkarya.

Baru-baru ini, resensi buku buatan Risky tayang di Tribun Jateng. Produktif menulis sudah dimulai Risky sejak masa kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Kegiatan itu kian rutin saat Risky di akhir masa kuliah, tepatnya ketika menggarap skripsi. Kala itu, ia menargetkan dirinya untuk minimal menulis karya sastra tiap minggu.

"Satu bulan, minimal kirim berapa karya dan dalam seminggu pun demikian. Awal suka menulis karena dulu menjadi sebuah keharusan. Di mana masa perkuliahan, saya diwajibkan mengumpulkan tugas-tugas kepenulisan sastra. Awalnya memang males-malesan, lalu lambat laun jadi sebuah kebiasaan hingga rutinitas yang saya bangun sendiri," tutur lulusan S1 Sastra Indonesia UMP ini.

Terbentur, terbentur, lalu terbentuk. Istilah itu sepertinya cocok menggambar kegiatan Risky dalam menulis. Untuk menjaga rutinitas baik tersebut, Risky mulai membiasakan membuat catatan jurnal minimal 500 kata. Ia beri sebutan catatan itu sebagai journaling. Ia mengusahakan dirinya membuat journaling tiap sehabis bangun tidur kala pagi hari. Hal itu dilakukannya agar tidak menunda inspirasi.
Wawasan

Selain untuk tidak menunda inspirasi, rutinitas journaling ini dipercaya Risky dapat membangun kreativitas serta wawasan baru. Sebab, journaling dapat memunculkan kembali ingatan Risky akan bacaan-bacaan yang pernah dibaca sebelumnya. Namun, seperti kebanyakan orang pada umumnya, rutinitas Risky ini tak jarang terhambat karena aktivitas lainnya yang terlalu padat.

"Contohnya, satu hari saya bekerja sampai lupa meluangkan untuk menulis. Paling sulit sih mengatur waktu. Apalagi jika ide datang tiba-tiba. Sebab, jika tertunda-tunda dalam mengeksekusi, yang ada malah imajinasi yang saya bangun akan hilang. Makanya, saya selalu berusaha untuk tidak menunda inspirasi. Kalau ada, langsung tulis. Bahkan pernah paling cepat dua hari selesai dengan 2.000 kata," ucapnya.

Sebagai contoh, warga Kecamatan Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara ini pernah mendapatkan inspirasi di jalan raya ketika dirinya melihat orang kecelakaan. Kejadian itu seketika menjadi ide dalam karya cerpennya. Khusus untuk menulis cerpen, ia tak mau menunda-nunda. Sedangkan untuk puisi, ia membutuhkan gambaran yang cukup panjang hingga akhirnya ditulis.

Baca juga: Pembunuhan Sadis Pegawai Bank Cantik, Pacar Histeris Saat Kali Pertama Temukan Mayat

Baca juga: Tahun 2021, KONI Kabupaten Pekalongan Prioritaskan Pembinaan Atlet 

Baca juga: Wartawan Diteror Gara-gara Pemberitaan, Mobil Dibakar Hingga Rencana Dibunuh

"Saya bahkan satu bulan baru selesai karena saya sering menikmati momen-momen kehidupan sekitar dengan nyata, sampai lupa untuk dituangkan dalam sebuah karya puisi. Saya memang cenderung berbeda-beda dalam menyelesaikan sebuah karya. Sama seperti membaca buku. Satu buku pernah bisa selesai dua bulan. Kadang kurang dari sehari juga bisa selesai. Semuanya tergantung darimenariknya isi dari buku tersebut," pungkas Risky.

Tak hanya gemar membaca, Risky juga beberapa kali turut berkontribusi dalam penulisan buku berupa antalogi cerpen dan puisi. Tepatnya ia sudah tiga kali ikut menjadi salah satu penulis di buku antologi tersebut. Ke depannya, ia berencana ingin membuat buku sendiri yang berisikan kumpulan cerpen dan esai feminis. (*)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved