Senin, 27 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Solo

Harga Kedelai Meroket Rp 9.250 Per Kg, Produsen Tahu di Solo Terpaksa Perkecil Ukuran

Produsen tahu di Solo mendapat 'kado pahit' di awal tahun 2021. Harga kedelai di pasaran meroket. Harga kedelai kini mencapai Rp 9.250 per kilogram.

Editor: m nur huda
TribunSolo.com/Adi Surya
Seorang karyawan melakukan proses penyaringan sari tahu di pabrik milik Slamet, Kampung Krajan RT 03 RW 03, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Sabtu (2/1/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Produsen tahu di Solo mendapat 'kado pahit' di awal tahun 2021. Harga kedelai di pasaran meroket.

Harga kedelai kini mencapai Rp 9.250 per kilogram. Kondisi tersebut memaksa para produsen pabrik tahu beradaptasi.

Semisal, seorang produsen tahun, Slamet Mujiono (45). Ia harus melakukan penyesuaian supaya bisa bertahan di tengah meroketnya harga kedelai.

Ia juga memiliki tanggungan seorang karyawan.

Baca juga: Cerita Hartopo Pada Sosok Habib Jafar, Kemampuan Mengingat Orang yang Hanya Sekali Bertemu

Baca juga: Gantung Diri di Warung, Mbah Ramijo Tinggalkan Surat untuk Anak Berisi Alasan Akhiri Hidup

Baca juga: Terpergok Saat Curi Kotak Amal Masjid, Pria Ini Pura-pura Kesurupan

Baca juga: Sambut Jenazah Habib Jafar di Semarang, Ganjar Minta Masyarakat Tak Berkerumun Saat Pemakaman

Oleh karenanya, pabrik tahu milik Slamet yang berada di Kampung Krajan RT 03/ RW 03, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo tetap harus mengebul.

"Kami masih tetap coba produksi. Cuma harus diakali," kata Slamet, Sabtu (2/1/2021).

Memperkecil ukuran tahu menjadi satu langkah yang diambil Slamet guna merespon meroketnya harga kedelai.

"Kalau biasanya satu papan bisa jadi 100 tahu kini jadi 110 tahu dengan ukuran yang lebih kecil," terangnya.

Slamet tidak ambil pusing bila langkahnya itu dikomplain pelanggannya.

"Saya jelaskan memang bahan baku mahal, kalau mau utuh ukuran, maka harga naik, kalau tidak mau ya udah ikut yang jual," ucapnya.

Meski ukuran diperkecil, Slamet tetap tidak menaikkan harga jual per bijinya. Ia tetap mematok harganya Rp 250 per biji.

"Biasanya saya jual di Pasar Rejosari Solo," ucap Slamet.

Slamet juga tidak mau mengambil risiko berlebih. Ia tetap mempertahankan berat kedelai yang dibelinya tidak ubahnya.

Ia tetap membeli hampir 100 kilogram tiap harinya.

"Sekarang beli kedelainya 80 kilogram tiap harinya," tutur Slamet.

Sumber: Tribun Solo
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved