Berita Internasional
Susul Huawei, Xiaomi Juga Terkena Blacklist AS, Dituding Milik Perusahaan Militer China
Xiaomi, produsen smartphone asal China, telah masuk dalam blacklist atau daftar hitam perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusul Huawei.
TRIBUNJATENG.COM, TAIPEI - Xiaomi, produsen smartphone asal China, telah masuk dalam blacklist atau daftar hitam perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusul Huawei.
Dimasukkannya Xiaomi ke dalam daftar perusahaan yang dicekal itu setelah Departemen Pertahanan AS mengkategorikan Xiaomi sebagai 'perusahaan militer milik komunis China'.
Dengan masuknya Xiaomi ke dalam daftar hitam perdagangan itu membuat investasi dari AS ke perseroan menjadi dibatasi.
Baca juga: Calon Tunggal Kapolri Listyo Sigit Lompati 4 Angkatan Akpol, Ini Respons Seniornya
Baca juga: Operasi Masker di Ngaliyan, Pelanggar Disanksi Bersihkan Pemakaman Agar Ingat Kematian
Baca juga: Kata Para Artis Setelah Mantan Suami Nita Thalia, Nurdin Ruditia Meninggal
Baca juga: Jumlah Pendaki di Gunung Lawu Karanganyar Turun Drastis, Sehari Hanya 6 Orang
Seperti dilaporkan Nikkei Asia, Sabtu (16/1/2021), Presiden Donal Trump yang bakal habis masa jabatannya meningkatkan hubungan tidak baik antara AS dengan China.
Trump justru mengintensifkan tindakan kerasnya terhadap kepentingan perusahaan-perusahaan China.
Departemen Pertahanan AS telah memasukkan Xiaomi ke dalam daftar hitam sejak Kamis (14/1/2021) waktu setempat karena diduga ada hubungan kuat dengan militer China.
Produsen chip
Sementara itu, produsen chip teratas asal negeri Tirai Bambu, Semiconductor Manufacturing International Corp juga telah dimasukkan ke dalam daftar hitam untuk membatasi bisnisnya dengan perusahaan AS.
AS bahkan memaksa para investor untuk menjual saham mereka dari perusahaan-perusahaan tersebut.
Xiaomi kalahkan Apple?
Diduga blacklist atas Xiaomi datang ketika perseroan membuat rencana ambisius untuk pertumbuhan secara global.
Pada kuartal III 2020, Xiaomi berhasil mengalahkan produsen ponsel asal AS, Apple, dari segi penjualan dan atau pengiriman ponsel.
Xiaomi menjadi pembuat ponsel terbesar ketiga di dunia pada saat itu, mengungguli raksasa teknologi AS itu dari tiga besar global untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir.
Xiaomi juga telah melakukan pemesanan agresif dengan para pemasok.
Harapannya, perseroan mampu meraih pangsa pasar yang hilang dari Huawei di tengah tindakan keras AS.
Tanggapan Xiaomi
Menanggapi blacklist AS, Xiaomi membantah terafiliasi oleh militer China.
Pembuat ponsel yang dijuluki Apple-nya China ini boleh dibilang berhasil mengukir namanya sebagai pabrikan ponsel dengan spesifikasi premium, namun harganya terjangkau.
Tak heran, perusahaan memegang posisi teratas di beberapa pasar handset, seperti di India.
Xiaomi juga merupakan salah satu klien terkemuka dari dua pengembang chip seluler terbesar di dunia, Qualcomm AS dan Mediatek Taiwan.
Smartphone andalan terbarunya dengan tipe Mi 11 yang diluncurkan pada Desember lalu menggunakan prosesor seluler paling premium Qualcomm, sistem-on-chip Snapdragon 888 5G.
Investor utama dari AS
Sementara itu, Trump telah menuduh China semakin mengeksploitasi ibu kota AS.
Menyusul blacklist terhadap Xiaomi, Trump melarang warga AS untuk memiliki sekuritas secara langsung atau melalui dana, di perusahaan yang dianggap memiliki hubungan dengan militer China.
Larangan itu berlaku mulai 11 Januari 2021 kemarin.
Sedangkan bagi investor yang telanjur memiliki aset secara itu, diberi waktu hingga November 2021 untuk melepaskan/menjualnya.
Tercatat, investor utama Xiaomi berasal dari AS.
Beberapa di antaranya seperti Vanguard Group, BlackRock Institutional Trust Company, Wells Capital Management, dan Geode Capital Management.
Atas perintah Trump, harga saham perusahaan turun 9 persen di bursa Hong Kong.
Peralatan chip
Selain Xiaomi, Departemen Pertahanan AS juga menyebut beberapa perusahaan yang terafiliasi dengan militer China.
Di antaranya termasuk Advanced Micro-Equipment Fabrication Co atau dikenal sebagai AMEC.
AMEC merupakan salah satu unggulan nasional China dalam peralatan chip.
Perusahaan ini telah terdaftar di papan STAR tech-heavy Shanghai sejak 2019.
SMIC dan Yangtze Memory Technologies, telah mempercepat penggunaan peralatan chip buatan sendiri seperti yang diproduksi oleh AMEC, untuk mengurangi ketergantungan mereka pada peralatan Amerika.
Pabrikan pesawat
Perusahaan lainnya yang masuk daftar hitam adalah Commercial Aircraft Corporation of China.
Pabrikan pesawat itu ditujukan untuk bersaing dengan Boeing dan Airbus.
Sejauh ini, tak kurang lebih dari 40 entitas China telah dicurigai sebagai perusahaan militer.
Termasuk di antaranya operator seluler China Mobile dan China Telecom, pembuat kamera pengintai top dunia Hikvision, serta pembuat pembuat server China terkemuka, Inspur.(*)
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Diduga Perusahaan Militer Komunis, Xiaomi Masuk Blacklist AS, Susul Huawei dan Pabrik Pesawat China
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-xiaomi.jpg)