Berita Internasional
Makin Tak Kondusif, Vietnam & Thailand Segera Pulangkan Warganya dari Myanmar Mulai 11 Maret
Thailand dan Vietnam, telah menyiapkan rencana pemulangan warganya dari Myanmar yang kini dikuasai junta militer.
Sementara Singapura pada Kamis (4/3/2021) menyarankan warganya di Myanmar untuk meninggalkan negara itu dengan penerbangan komersial, jika cara itu masih mungkin dilakukan.
Militer Myanmar melancarkan kudeta pada pagi 1 Februari, beberapa jam sebelum Parlemen terpilih dalam resmi menduduki jabatannya.
Penasihat Negara Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan anggota senior Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) lainnya juga ditahan pada hari yang sama.
Junta juga telah mengumumkan keadaan darurat satu tahun.
Mereka berjanji untuk "mengambil tindakan" terhadap dugaan penipuan pemilih selama pemilihan umum 8 November, yang dimenangkan oleh partai NLD secara mutlak.
India Diminta Serahkan 8 Polisi Myanmar yang Kabur
India diminta mengembalikan delapan anggota polisi Myanmar yang kabur dari negaranya karena ingin meminta suaka.
DIlaporkan bahwa dalam beberapa hari ini sudah ada 30 polisi beserta keluarganya yang melintasi perbatasan.
Para polisi Myanmar itu menolak perintah junta militer untuk menekan pengunjuk rasa atau demonstran secara brutal.
Pejabat senior di Champhai, Negara Bagian Mizoram menyatakan, mereka menerima surat dari otoritas Distrik Falam.
Dalam suratnya, otoritas Falam meminta India mengembalikan delapan polisi Myanmar sebagai "tanda persahabatan".
Kepada Reuters, Wakil Komisioner Maria CT Zuali mengatakan, saat ini pihaknya menunggu arahan dari Kementerian Dalam Negeri India.
Dalam surat, negara yang dulunya bernama Burma itu menjabarkan detil empat polisi berumur 22-25 tahun, dan satu petugas perempuan.
"Untuk menjaga hubungan persahabatan antar-negara, Anda diminta menangkap mereka dan menyerahkan balik ke Myanmar," bunyi surat itu.
Kementerian dalam negeri tidak merespons akan surat itu.
Sementara kementerian luar negeri mengaku masih memahami faktanya.