Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Rok dan Pakaian Dalam Perempuan Jadi Penahan Keganasan Aparat Myanmar

demonstran menggunakan kepercayaan lama, yakni menggantungkan pakaian dalam dan rok perempuan, demi menghalau militer Myanmar

Editor: Vito
STR / AFP
Para pengunjuk rasa memasang longyi, pakaian dalam dan rok perempuan tradisional yang banyak dikenakan di Myanmar, dengan digantung melintasi jalan, dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Minggu (7/3/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Puluhan ribu warga Myanmar kembali turun ke jalanan pada Minggu (7/3), dalam aksi protes terhadap kudeta, meski tindakan kekerasan oleh aparat keamanan semakin menjadi-jadi.

Pada Sabtu (6/3) malam, terjadi serangan dan penggerebekan oleh pasukan keamanan di kota utama, Yangon, terhadap para pemimpin kampanye dan aktivis oposisi di rumahnya.

Adapun, demonstran menggunakan kepercayaan lama, yakni menggantungkan pakaian dalam dan rok perempuan, demi menghalau militer Myanmar, Minggu (7/3).

Demonstran menjemur pakaian dalam dan rok panjang perempuan, dikenal sebagai longyi, melintasi jalan.

Merujuk pada takhayul setempat, pakaian yang menutupi tubuh bagian bawah wanita bisa mengisap kekuatan pria, atau hpone, jika tersentuh.

"Jika mereka sampai melewati longyi itu, maka hpone mereka akan meredup," kata aktivis Thinzar Shunlei Yi.

Menurut dia, pasukan pun tak bisa bergerak maju jika massa sudah memasang longyi, dan terpaksa harus menurunkannya.

Namun, beberapa tentara dilaporkan takut untuk menyentuh baju itu, karena yakin bisa menghancurkan kekuatan mereka.

Hal itupun membuat para perempuan mulai menggunakannya sebagai senjata, dengan pemandangan tersebut muncul di seantero Yangon. Mulai dari kawasan San Chaung hingga pinggiran.

Hal itu membuat seorang prajurit harus berdiri di atas truk guna mencopotnya. Bahkan, ada longyi yang kini dipasangi gambar pemimpin junta militer, Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Ada juga yang menaruh wajah Min di tanah kawasan perdagangan, membuat aparat tentu berpikir dua kali saat menginjaknya.

Dilansir The Guardian, menghadapi proyes pada Minggu, polisi menembakkan gas air mata dan granat setrum di kota Lashio di wilayah Shan utara negara itu, menurut video langsung yang diposting di Facebook.

Seorang saksi mata mengatakan, polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan protes di kota kuil bersejarah Bagan. Tidak jelas apakah mereka menggunakan peluru karet atau peluru tajam.

Tidak ada laporan tentang korban jiwa. Protes di sejumlah kota lain berlangsung damai. Jumlah demonstran terbanyak pada aksi hari Minggu terjadi di kota terbesar kedua di Myanmar, Mandalay.

Para aktivis menggelar protes duduk setelah dua menit mengheningkan cipta untuk menghormati orang-orang yang dibunuh oleh polisi dan tentara.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved