Breaking News:

Postingan CIA Akui Pasok Senjata ke Jihadis Taliban Afghanistan

Postingan itu mengungkap secara terbuka keterlibatan CIA dan AS, membangun kekuatan mujahidin yang jadi cikal bakal Al Qaeda dan Taliban Afghanistan.

STR / AFP
ilustrasi - Pasukan Taliban di Provinsi Ghazni, Afganistan. 

TRIBUNJATENG.COM, MOSKOW – Akun Twitter CIA (terverifikasi) pada Selasa (6/4) memposting tautan artikel sekaligus membubuhi keterangan rudal Stinger yang dipasok ke mujahidin Afghanistan sebagai alat melawan alat tempur Soviet.

“The Stinger missiles supplied by the United States gave Afghan guerrillas, generally known as the Mujahideen, the ability to destroy the dreaded Mi-24D helicopter gunships deployed by the Soviets to enforce their control over Afghanistan. #HISTINT #Museum”

Demikian postingan itu telah memicu polemik dan diskusi seru, karena mengungkap secara terbuka keterlibatan CIA dan AS, membangun kekuatan mujahidin yang jadi cikal bakal Al Qaeda dan Taliban Afghanistan.

Postingan akun resmi dinas rahasia AS itu mengonfirmasi militan Afghanistan yang sama yang sekarang membunuh pasukan AS bukanlah teori konspirasi. Cuitan itu sampai Rabu (7/4) masih ada di akun Twitter CIA (terverifikasi).

Lewat postingan di Twitter itu, CIA terlihat membanggakan tampilan peluncur rudal FIM-92 Stinger, yang di tangan gerilyawan Afghanistan mampu menghancurkan helikopter tempur Mi-24D Soviet yang ditakuti.

Operasi Topan (Cyclone) adalah operasi rahasia terpanjang dan termahal CIA, dan melihat badan tersebut secara diam-diam menyalurkan senjata dan uang kepada pejuang Mujahidin Afghanistan awal 1980-an.

AS melancarkan kampanye gerilya melawan pasukan Soviet yang menduduki Afghanistan dan menaikkan pemerintahan pro-Moskow.

Program itu berlanjut di bawah pemerintahan Presiden Jimmy Carter, Ronald Reagan dan George HW Bush, karena AS bersikeras Mujahidin adalah pejuang kemerdekaan.

Para pejuang ini, yang menganggap Osama Bin Laden sebagai sekutunya, pada akhirnya berubah menjadi Taliban, sebuah kelompok yang kini telah diperangi AS di Afghanistan selama hampir dua dekade.

"Pada 2010, orang-orang yang kami lawan hari ini, kami danai 20 tahun yang lalu. Mempersenjatai para jihadis terdengar seperti ide yang bagus pada saat itu," kata mantan Menteri Luar Negeri, Hillary Clinton.

Halaman
12
Editor: Vito
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved