Berita Pemalang
Kedelai Lokal Pemalang Kalah Pamor dengan Kedelai Impor
Dari petani Kecamatan Moga tahun lalu menghasilkan 1 ton kedelai, sementara Kecamatan Pulosari mencapai 73 ton.
Penulis: budi susanto | Editor: m nur huda
Berkaca mengenai hal itu, beberapa waktu lalu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jateng, sempat menemukan, masyarakat masih ketergantungan dengan kedelai impor.
“Lebih dari 90 persen masyarakat memiliki ketergantungan pada pasokan kedelai impor, hal itu tak hanya terjadi di Jateng, namun juga wilayah lainya," jelas Kepala Disperindag, Arif Sambodo, beberapa waktu lalu.
Terpisah, di tingkat pegrajin tempe, kedelai impor jadi pilihan utama, lantaran dianggap lebih berkualitas ketimbang kedelai lokal.
"Kalau pakai kedelai lokal, tempe buatan kami tidak tahan lama. Maka dari itu kami memilih kedelai impor," jelasnl Jamiah, pengrajin tempe di Kecamatan Moga Pemalang.
Jamiah menerangkan, harga kedelai impor kini tembus di angka Rp 1,1 juta, yang beberapa bulan lalu hanya Rp 500 ribu lebih perkuntalnya.
"Memang setiap bulan naik, tahun lalu hanya Rp 500 ribu, sekarang Rp 1,1 juta perkuintal. Kenaikan itu membuat kami menaikan harga tempe dari Rp 2,5 ribu, jadi Rp 3 ribu," imbuhnya.
Ia menambahkan, beberapa pengrajin ada yang tak menaikan harga, namun mengurangi berat tempe.
"Kalau tidak seperti itu ya kami rugi terus, padahal untuk empat hari kami butuh sekitar 1 kuintal untuk membiat tempe," tambahnya.(*)