Berita Pemalang
Kedelai Lokal Pemalang Kalah Pamor dengan Kedelai Impor
Dari petani Kecamatan Moga tahun lalu menghasilkan 1 ton kedelai, sementara Kecamatan Pulosari mencapai 73 ton.
Penulis: budi susanto | Editor: m nur huda
Penulis : Budi Susanto
TRIBUNJATENG.COM, PEMALANG - Produksi kedelai di Kabupaten Pemalang pada 2020 tercatat mencapai 657 ton.
Total produksi tersebut disumbang dari petani yang ada di empat kecamatan.
Selain Kecamatan Moga, Pulosari, dan Bodeh, Kecamatan Randudongkal juga menjadi produsen kedalai lokal.
Dari petani Kecamatan Moga tahun lalu menghasilkan 1 ton kedelai, sementara Kecamatan Pulosari mencapai 73 ton.
Baca juga: Waspadalah, Marak Jambret di Kota Semarang Sasar Emak-emak
Baca juga: Sederhanakan Birokrasi, Pemkab Kebumen Hapus Jabatan Setingkat Kepala Seksi & Kasubbag
Baca juga: Lampu KRI Nanggala 402 Masih Menyala Saat Menyelam hingga Terdengar Isyarat Tempur
Baca juga: Mengenal Ponpes An Nur Kersan Sejak 134 Tahun Lalu, Cikal Lahirnya Pondok Sekitar Kendal
Tak hanya itu, Kecamatan Bodeh juga menyumbang 68 ton, dan Kecamatan Pulosari memiliki kontribusi terbesar dengan 515 ton pada 2020.
Meski sangat potensial, namun gempuran kedelai impor, dan kurangnya minat petani membuat kedelai lokal Pemalang terseok-seok.
Dipaparkan Sutrisno Kepala Desa Ceklatakan, Kecamatan Pulosari, permintaan kedelai lokal sampai saat ini sangat kurang.
"Hal itu membuat petani tak mau menanam kedelai, dan lebih memilih menanam cabai," jelasnya, Sabtu (24/4/2021).
Dilanjutkannya, tak tentunya harga kedelai lokal ikut mempengaruhi minat petani menanam kedelai.
"Di Pulosari memang ada petani kedelai namun tak banyak, harganya juga tak menentu. Beberapa waktu lalu bisa di atas Rp 10 ribu perkilogram," jelasnya.
Disinggungnya, gempuran kedelai impor juga berdampak pada kedelai lokal, dan menambah petani tak mau menanam kedelai.
"Maka dari itu banyak yang beralih, karena banyaknya kedelai impor yang beredar di Pemalang," ucapnya.
Sementara itu, harga kedelai impor yang beredar di Kabupaten Pemalang, di angka Rp 9 ribu lebih, dan lebih murah dibanding kedelai lokal.
Meski selisih harga kedelai impor lebih tinggi, namun masyarakat masih memilih kedelai impor baik untuk produksi tempe maupun tahun.