Terjadi Kontak Tembak, Operasi Penggerebekan Narkoba di Brasil Tewaskan 25 Orang
Saat operasi itu digelar, terjadi kontak tembak yang mengakibatkan kematian para pelaku dan warga sipil lain.
TRIBUNJATENG.COM, RIO DE JANEIRO - Sedikitnya 25 orang tewas setelah ratusan polisi bersenjata lengkap menyerbu sebuah daerah kumuh terbesar di Rio de Janeiro, Brasil.
Aparat keamanan menargetkan para pengedar narkoba. Saat operasi itu digelar, terjadi kontak tembak yang mengakibatkan kematian para pelaku dan warga sipil lain.
Media lokal menunjukkan rekaman langsung tujuh pemuda bersenjata yang melompat melalui atap favela Jacarezinho Kamis (6/5) pagi waktu setempat.
Helikopter antipeluru dikerahkan dan melayang-layang di atas permukiman kumuh dan sangat padat hunian itu.
Laporan itu mengatakan para penjahat berusaha melarikan diri dari polisi. Dua penumpang di metro terkena peluru nyasar dan satu petugas polisi tewas.
Video dan foto yang dibagikan ke Al Jazeera oleh penduduk menunjukkan ledakan granat, serta mayat bergeletakan di lorong-lorong favela.
Beberapa lubang bekas tembakan tampak di pintu rumah, kasur, dan terlihat pakaian berlumuran darah, serta jejak darah mengalir menuruni tangga di gang-gang sempit favela.
Media Brasil secara memuji operasi itu, saat Kepolisian Federal dan Sipil Rio mengatakan tindakan keras dibenarkan terhadap perdagangan narkoba dan kejahatan kekerasan lain di masyarakat.
Tahun lalu, Mahkamah Agung Brasil memerintahkan polisi menghentikan operasi selama pandemi covid-19 yang berkecamuk di Brasil, membatasi mereka pada keadaan yang benar-benar luar biasa.
Namun, Pengadilan tertinggi negara itu belum berkomentar apakah operasi mematikan pada Kamis termasuk dalam pengecualian itu.
Pengadilan juga meminta polisi untuk meminta persetujuan Kementerian Umum setidaknya 24 jam sebelum operasi.
Laporan media mengatakan, Kementerian Publik telah menyetujui operasi tersebut. Tetapi, Bruno Soares, peneliti dari Pusat Studi Keamanan Publik dan Kewarganegaraan Rio, mengeklaim, kementerian hanya menerima informasi tentang operasi tersebut tiga jam setelah dimulai.
Sementara, aktivis hak asasi manusia, penduduk, dan spesialis keamanan publik merasa ngeri, dan menyebut serangan itu mungkin didorong faktor lain.
“Tidak pernah dalam hidup saya, saya melihat operasi polisi yang mematikan seperti ini,” ucap Soares kepada Al Jazeera.
"Petugas polisi itu terbunuh sebelum jam 9 pagi, ini bisa mempengaruhi jumlah kematian karena polisi menyerang dengan lebih banyak kekuatan," tambah Soares, yang lahir dan besar di favela Jacarezinho.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/protes-penggerebekan-narkoba-di-brasil.jpg)