Breaking News:

Berita Usaha

Perajin Kecilkan Ukuran Tempe Siasati Lonjakan Harga Kedelai

Di tengah imbas pandemi covid-19 terhadap perekonomian yang belum stabil, para perajin tempe semakin tercekik dengan melambungnya harga kedelai impor

TRIBUN JATENG/IDAYATUL ROHMAH
Perajin tempe di Kampung Tahu Tempe Lamper Tengah, Semarang Selatan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Di tengah imbas pandemi covid-19 terhadap perekonomian yang belum stabil, para perajin tempe semakin tercekik dengan melambungnya harga kedelai impor.

Pasalnya, kenaikan harga kedelai tidak dibarengi dengan naiknya harga jual tempe, sehingga membuat produsen kewalahan.

Hal itu seperti diakui Sakdun (51), perajin tempe di Kampung Tahu Tempe Lamper Tengah, Semarang Selatan. Ia menyebut, dirinya dan puluhan perajin tempe di kawasan itu kini terpaksa menyiasati kenaikan harga kedelai dengan mengecilkan ukuran tempe.

Menurut dia, hal itu merupakan cara agar di tengah lonjakan harga kedelai, harga tempe tetap stabil.

"Biasanya isi kedelainya lebih banyak, sekarang isinya dikurangi agar harga tempe tetap sesuai harga pasar.

Kalau naik (harga-Red) takutnya konsumen berkurang. Ini saja sudah diprotes," katanya, ditemui Tribun Jateng, Minggu (6/6).

Para perajin tempe di kawasan itu menuturkan, lonjakan harga kedelai sudah terjadi selama 6 bulan terakhir ini.

Hadi Purnomo (55), perajin tempe lain, menyatakan, harga kedelai amerika yang menjadi bahan baku sebelumnya pada kisaran Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram.

Tetapi saat ini, lonjakan harga terjadi hampir dua kali lipatnya. "Ini istilahnya ganti harga. Awalnya Rp 6.200, Sekarang harga pada kisaran Rp 11.000/kilogram," keluhnya.

Tingginya harga kedelai juga turut memengaruhi penjualan tempe. Menurut Hadi, sebelum pandemi menerpa, ia mampu memproduksi sekitar 1 kuintal tempe per hari.

Namun sejak pandemi disusul kenaikan harga, perajin hanya mampu memroduksi tempe sekitar 50 kilogram/hari.

Satuan tempe dibanderol harga sama, mulai Rp 1.000 (untuk tempe kecil berbungkus daun pisang) sampai Rp 10.000. "Sejak harga naik, penurunan penjualan sampai 25 persen.

Mau produksi banyak-banyak tidak berani, kalau sisa kan juga rugi. Harapan utama yang penting harga (kedelai-Red) turun, agar penjualan bisa stabil, karena sudah lama juga tidak ada subsidi," paparnya. (idy)

Baca juga: OPINI Aji Sofanudin : Urgensi Riset Agama

Baca juga: Hotline Semarang : Benarkah Ada Vaksinasi untuk Driver Gojek di Sam Poo Kong

Baca juga: Kepergok Hendak Rudapaksa Wanita Bersuami, Pria Ini Dibawa ke Polsek Kondisi Lemas hingga Tewas

Baca juga: Euro 2021 Sinar Terang Bintang Muda

Penulis: Idayatul Rohmah
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved