Breaking News:

Berita Kudus

Varian Baru di Kudus, HM Hartopo: Usia Muda dan Tanpa Komorbid Tetap Harus Waspada

Varian baru virus corona terdeteksi di Kudus. Bupati Kudus HM Hartopo memastikan varian tersebut diketahui setelah ada hasil riset dari UGM.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Bupati Kudus HM Hartopo 

Penulis: Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Varian baru virus corona terdeteksi di Kudus. Bupati Kudus HM Hartopo memastikan varian tersebut diketahui setelah ada hasil riset dari UGM.

"Kemarin sudah ada yang intinya ada penelitian dari UGM. Yang di sini memang dirasa varian baru yang diambil sampel yang dulu. Kan sampelnya sudah lama sekali. Tapi by name by address-nya belum tahu. Siapa yang kena varian baru itu," ujar Hartopo, Minggu (13/6/20201).

Uji sampel untuk mendeteksi keberadaan varian baru, kata Hartopo, dengan mengambil 34 sampel. Hasilnya yang keluar 28 di antaranya terdapat varian baru.

"Tapi sampai sekarang dengan adanya warning seperti itu, kami harus punya langkah yang lebih konkret, lebih tegas terkait masalah bagaimana PPKM mikro ini kami optimalkan," ujar dia.

Baca juga: Kerjasama dengan Perguruan Tinggi, Kendal akan menjadi laboratorium pusat inovasi di Jawa Tengah

Baca juga: Video Puluhan Pedagang PAI Tegal Jalani Test Swab

Baca juga: Menko Airlangga: Dukungan Pemerintah dalam Pengembangan Ekonomi Syariah dengan  Halal Value Chain

Kata Hartopo, varian baru itu lebih sensitif, masif, dan cepat dalam penularannya.

Untuk itu, Hartopo meminta agar warga lebih ketat dalam protokol kesehatan.

"Jangan sampai mudah membuka masker. Gitu saja. Karena untuk varian baru kalau di tempat ruangan, ini ada salah satu dokter yang ngomong, ketika ada yang saling membuka masker, ada yang ngobrol, walaupun jarak jauh itu bisa kena. Bisa kena kalau dibawa oleh udara bisa kena. Makanya jangan sampai lepas ini (masker)," kata dia.

Hartopo juga menyoroti bahwa kematian yang terjadi karena pandemi ini semata-mata tidak hanya mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

"Ada yang meninggal di usia 30 tahun, 35 tahun dan tanpa komorbid," katanya.

Untuk itu, dia meminta kepada seluruh masyarakat agar waspada.

"Tapi jangan takut, yang penting kita paham bagaimana protokolnya," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved