Penanganan Covid19
UPDATE COVID JATENG: RS dan Tempat Isolasi Penuh, Pengiriman Pasien Covid dari Kudus Dihentikan
Sejumlah rumah sakit dan tempat isolasi terpusat untuk pasien yang terpapar Covid-19 di Jawa Tengah diketahui penuh.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Sejumlah rumah sakit dan tempat isolasi terpusat untuk pasien yang terpapar Covid-19 di Jawa Tengah diketahui penuh. Bahkan, di sejumlah tempat, sempat membeludak sehingga pasien tidak tertampung.
Membeludaknya pasien disebut lantaran rujukan dari Kudus. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo tidak menampik lonjakan pasien di sejumlah rumah sakit dan tempat isolasi terpusat seperti di Semarang berasal dari Kudus.
Yulianto mengungkapkan, saat ini Pemerintah Kabupaten Kudus diminta untuk tidak mengirimkan pasien covid ke daerah lain, termasuk ke tempat isolasi terpusat di Asrama Haji Donohudan Boyolali.
"Kemarin, pak gubernur (Ganjar Pranowo) ke Kudus, ternyata di sana, memiliki bangunan rusunawa dengan kapasitas banyak sekali, namun hanya terisi sedikit sekitar 20 kamar. Terus setiap kecamatan juga mempunyai bangunan kosong yang bisa digunakan untuk ruang isolasi," kata Yulianto, Selasa (15/6).
Bangunan rusunawa atau tempat isolasi tersebut tentu saja untuk pasien yang memiliki gejala ringan atau orang tanpa gejala (OTG). Warga diminta untuk tidak melakukan isolasi mandiri lantaran tidak mendapatkan pengawasan dari tenaga kesehatan.
Untuk yang memiliki gejala, tetap harus dirujuk ke rumah sakit. Jika sudah parah, dianjurkan untuk dirujuk ke rumah sakit yang ada di kota besar dengan sarana dan prasarana memadai seperti di Kota Semarang.
"Pak gubernur meminta (ruang isolasi) di Kudus diisi dulu, sebelum dibawa ke daerah lain atau Donohudan. Kalau tidak muat, baru silakan ke Donohudan," tandasnya.
Di sisi lain, tempat tidur pasien Covid-19 di tujuh rumah sakit rujukan di Kudus saat ini terisi 94 persen. Artinya, dari seluruh rumah sakit rujukan yang ada di Kudus, tersedia 482 tempat tidur untuk pasien Covid-19 sudah terpakai 452 tempat tidur.
“Sehingga apabila melihat kasus seperti ini, di angka rata-rata 150 sampai 200 (kasus per hari) akan sangat dimungkinkan bahwasanya rumah sakit tempat tidur isolasinya itu tidak bisa menampung lagi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Badai Ismoyo, Selasa (15/6).
Menurutnya, keterpakaian tempat tidur pasien Covid-19 saat ini mengalami penurunan dibandingkan sepekan yang lalu mencapai 96 persen. Meski begitu, Badai menilai angka pasien yang dirawat di rumah sakit masih tinggi.
“Bupati telah menginstruksikan untuk dilakukan penambahan dari tempat tidur isolasi di rumah sakit rujukan. Sehingga dengan penambahan tersebut kurang lebih di angka 750-an tempat tidur yang seharusnya tersedia,” ujar Badai.
Hendi Buka 4 Tempat Karantina Baru
Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang akan membuka empat tempat karantina baru. Hal itu menyusul sudah cukup banyak rumah sakit yang hampir penuh.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyampaikan, bed occupancy ratio (BOR) atau angka penggunaan tempat tidur isolasi di Kota Semarang mencapai 82 persen dari total 1.771 tempat tidur. Banyak rumah sakit yang memiliki tingkat BOR hampir 100 persen. Bahkan, sudah 100 persen terutama untuk ICU isolasi.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kota Semarang berupaya menambah tempat karantina agar pasien yang sudah stabil namun masih dalam kondisi positif Covid-19 bisa dirawat di tempat karantina.
Mengenai isu pasien di rumah dinas harus mengantre mendapatkan penanganan, wali kota yang akrab disapa Hendi menjelaskan, keterisian di rumah dinas memang sangat fluktuatif. Bisa jadi malam hari penuh, namun pasien yang sembuh dan pulang ke rumah masing-masing juga tinggi.Keterisian tempat karantina di Islamic Centre juga tidak berbeda jauh. Dari 120 tempat tidur, sudah terisi 90 pasien dalam dua hari.
"Tingkat kesembuan juga cepet. Jadi, tidak perlu ragu dan risau. Isu penuhnya rumah sakit mungkin iya tapi isu tempat karantina mungkin tidak," tegas Hendi, Selasa (15/6).
Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Semarang berencana menambah empat tempat karantina baru untuk menampung masyarakat yang terpapar Covid-19.
Hendi akan membuka kembali kantor Diklat Pemerintah Kota Semarang di Jalan Ketileng untuk tempat karantina dengan kapasitas 100 tempat tidur. Pihaknya juga sudah melakukan negosiasi dengan tiga pihak untuk membuka tempat karantina baru.
Pertama, Pemkot bekerja sema dengan UIN Walisongo untuk memanfaatkan asrama mahasiswa dijadikan tempat karantina. Setidaknya, akan ada 200 tempat tidur isolasi di asrama tersebut.
"Teman-teman sedang membersihkan lokasi. Target minggu depan," ucapnya.
Kemudian, pihaknya juga bernegosiasi dengan pemilik rumah sakit baru di Kota Semarang. Pembangunan rumah sakit tersebut hampir selesai namun belum dikeluarkan perizinannya. Rencananya, rumah sakit itu akan digunakan untuk tempat karantina dengan kapasitas 100 tempat tidur.
Sebuah gereja di Marina juga akan menjadi tempat isolasi dengan kapasitas 50 tempat tidur.
"Dari 1.771, nanti kami ada tambahan 450 kamar. Dengan adanya tambahan itu, BOR kami akan turun meski sudah banyak RS yang BORnya hampir 100 persen. Terutama icu banyak yamg 100 persen. Kalau kita punya tempat tidur ruang karantina di luar RS, pasien yang hampir sembuh bisa dimasukan ke karantina," ujar Hendi.
Adapun rencana membuka tempat isolasi di hotel, Hendi menilai, saat ini belum perlu dilakukan.
Selain menambah tempat isolasi baru, Wali Kota Hendi juga menegaskan jika percepatan vaksinasi menjadi salah satu prioritasnya untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus Covid-19.
Setelah membuka sentra vaksinasi dengan sistem drive thru di objek wisata Klenteng Sam Poo Kong, kini Hendi juga berencana menambah 4 titik sentra vaksinasi lagi.Dengan rencana tersebut maka Hendi menargetkan total akan ada 5 sentra vaksinasi yang dibuka oleh Pemerintah Kota Semarang untuk mempercepat proses vaksinasi masyarakat di ibu kota Jawa Tengah.
“Selain yang sudah ada saat ini di Sam Poo Kong. Sentra vaksin juga kita siapkan di Pedurungan tepatnya di bekas kantor kecamatan, dan yang sekarang digunakan untuk kantor kecamatan. Kemudian di Mijen juga di kantor kecamatan dan bekas kantor kecamakatan,” tutur Hendi di kantornya, Selasa (15/6).
Dengan bertambahnya sentra vaksin, Hendi mengharapkan percepatan program vaksinasi bisa lebih optimal dalam menekan kasus Covid-19 terkhusus di wilayah yang menjadi kewenangannya.
Dirinya juga mengungkapkan selain menyiapkan sentra vaksin, pihaknya telah menyiapkan tenaga kesehatan. Sehingga mampu untuk memvaksin 3.000 hingga 5.000 orang per harinya. (mam/goz/eyf)
Baca juga: OPINI Ummi Nu’amah : Memperkuat Konstruksi Perempuan Penyelenggara Pemilu 2024
Baca juga: Hotline Semarang: Apakah Pelayanan Donor Darah Mobile Masih Buka Saat Pandemi?
Baca juga: FOKUS : Ironi Potong Vonis Pinangki
Baca juga: Gol Benzema dan Mbappe Dianulir VAR, Perancis Tetap Bisa Kalahkan Jerman di Euro 2020
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/antrean-pasien-covid-19-di-igd-rsud-ra-kartini-jepara-gubernur-jateng-ganjar-pranowo-sidak.jpg)