Resensi Buku
Resensi Buku Antologi Puisi Boeng Karya Anak-anak Muda Kudus: Perlu Lebih Merenung
Antologi puisi Boeng, yang digagas anak-anak muda di Kudus, sejak awal memang sudah menarik. Dibuat oleh anak-anak muda berisi 127 puisi.
Penulis: - | Editor: moh anhar
Judul: Boeng, Antologi Puisi Kebangkitan Kaum Muda
Penulis: Peserta Kemah Sastra Kudus
Kurator: Mukti Sutarman Espe & Jumari HS
Penyunting: Tiyo Ardianto
Penerbit: Parist
ISBN: 978-602-0864-51-8
Tebal: 206 halaman
Terbit: Agustus, 2020
Peresensi: Armydha K Humaam
TRIBUNJATENG.COM - Antologi puisi Boeng, yang digagas anak-anak muda di Kudus, sejak awal memang sudah menarik.
Antologi puisi ini meneguhkan sebagai kumpulan karya anak-anak muda.
Antologi Puisi Kebangkitan Kaum Muda.
Ada dua kata kunci, yang menunjukkan nyala di dalamnya. Kebangkitan dan kaum muda.
Boeng berisi 127 puisi dari 44 penyair (muda) dan 8 penyair yang menjadi fasilitator, plus 4 penyair kehormatan.
Antologi puisi ini berangkat dari Kelas Menulis, pada Maret-Juni 2020, yang kemudian berpuncak pada Kemah Sastra di Kudus, pada September 2020.
Dari sisi teknis perbukuan, puisi-puisi dalam Boeng disusun secara manasuka. Arbitrer.
Lazimnya antologi puisi bersama disusun secara alfabetis, urut abjad, sesuai nama penyair.
Hal itu, rasanya, memudahkan pembaca dalam menekuri sebuah antologi keroyokan.
Untuk Boeng, saya kerepotan mencari alasan penyusunan antologi puisi ini.
Baca juga: Dukung PPKM Darurat, Saidno: Seluruh Wisata di Kabupaten Tegal Ditutup Demi Keselamatan Bersama.
Baca juga: BP2MI Jateng Segera Berikan Vaksinasi Covid-19 kepada Ribuan Pekerja Migran Indonesia
Apakah diurutkan sesuai nama penulis? Tidak. Apakah berdasarkan tema puisi? Tidak juga.
Apakah berdasar "kebagusan" atau "kekuatan" puisi?
Mungkin saja.
Akan tetapi, jika menyusuri puisi-puisi para penyair muda di dalamnya, sejak "Tak Mereka dengar Suaraku" (Fadhil Iltizam Ghufron) hingga "Amuk Wisanggeni" (Eka Retno DP), rasanya alasan itu terbantahkan.
Dari sisi tema, puisi-puisi dalam Boeng melintas bebas, mulai dari hal-hal yang berkait dengan kedirian penyair, semangat pemuda, kerusakan lingkungan, atau tema-tema yang lebih kontekstual, semacam pandemi Covid-19.
Ada juga penyair yang mengeksplorasi khasanah tradisi lisan sebagai gagasan puisinya.
Bagaimana para penyair mengungkapkan dan mengemas puisi?
Selintas kilas, Boeng ini terlihat merak ati.
Puisi-puisi yang hadir tampak bersih, sedikit sekali kekeliruan ketik yang mengganggu.
Dari sisi tipografi—struktur fisik puisi—keseluruhan puisi dalam Boeng tampil kompak.
Semua ditulis dengan tipografi konvensional, berpola rata kiri atau align left.
Baca juga: Belajar Daring Lagi, Bupati Kudus HM Hartopo Tekankan Para Guru Bisa lebih Kreatif Mengajar
Baca juga: Jane Shalimar Meninggal Dunia, Sejumlah Politisi Ucapkan Bela Sungkawa
Cuma satu puisi, "Darah yang Tertinggal di Dinding Sejarah Fort Marlborough" karya Aditya Galih Erlangga yang menawarkan tipografi seperti prosa.
Satu puisi lainnya, "Perkabungan Terakhir" karya Nila Sinta Fitriyani, yang agak "bermain" tipografi, dengan sebagian baitnya menjorok ke dalam.
Lewat permainan tipografi ini, agaknya, penyair ingin memberi kesan tentang tingkatan kesedihan.
Oya, ada satu puisi yang menggunakan tipografi rata tengah. Penampakan puisi "Surga Bermuara" karya Reno Septia Budi Laksono mencitrakan bentuk nisan. Wujud puisi itu selaras dengan pesan yang terkandung di dalamnya, tentang akhirat sebagai ujung perjalanan manusia.
Tipografi semacam itu serta merta mengingatkan saya pada puisi "Di" karya Noorca Massardi, yang membentuk imaji pohon cemara, atau puisi "Viva Pancasila" karya penyair cum perupa, Jeihan Sukmantoro.
Bagaimana dengan diksi?
Diksi merujuk pada pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga mendapatkan efek tertentu seperti yang diharapkan.
Dalam soal diksi, dengan agak berat harus saya katakan, saya tidak menemukan "tawaran" yang menantang.
Pilihan kata dalam hampir semua puisi, terutama dari penyair (yang dilabeli) muda, terasa biasa-biasa saja.
Tidak cukup berhasil menggambarkan imajinasi penyair, alih-alih merangsang imajinasi pembaca.
Malah, saya masih menemukan diksi "lawasan", semacam asa atau mentari. Juga penulisan 'tuk alih-alih untuk atau 'kan ketimbang akan.
Entah dengan alasan apa.
Baca juga: Ini Daftar Lengkap Formasi CPNS 2021 Kejaksaan Agung RI, 27 Jabatan untuk Lulusan SMA, D3 hingga S2
Baca juga: Petugas Gabungan Sidak Mal di Solo, Pastikan Gerai Tutup kecuali Toko Obat, Sembako, dan Makanan
Setelah diksi, majas menjadi hal kedua yang mengusik perhatian saya.
Saya merasakan, pemanfaatan majas sebagai sarana untuk meninggikan dan meningkatkan efek ungkapan, dalam Boeng belum hadir secara optimal.
Memang ada satu-dua penyair yang bermain-main dengan majas, terutama majas-majas perbandingan—entah simile, metafora, atau personifikasi—untuk mempercantik sekaligus memperkuat pesan dalam puisinya, tetapi yang jauh lebih banyak penyair yang "membiarkan" puisinya hadir tanpa polesan.
Begitu polos sehingga agak sulit dibedakan dari orasi di tengah unjuk rasa, petuah guru kepada murid, atau bahkan sekadar obrolan sehari-hari. Sayang...
Kendati demikian, ada beberapa puisi yang cukup berhasil memainkan majas. Puisi "Anak Panah dan Obor" karya Maristya Cahya Lupita, misalnya, cukup menarik.
Metafora "anak panah yang harus terus meluncur" cukup imajinatif untuk menggambarkan anak muda yang harus terus bergerak mengikuti zaman.
Begitu juga dengan "obor yang harus terus menyala" untuk menggambarkan hasrat dan tanggung jawab anak-anak muda untuk terus belajar. “//Kami adalah anak panah/yang harus terus meluncur/membabat hebat segala yang tak pantas/membentuk diri sosok berkualitas//. Atau pada bait berikutnya, “//Kami adalah obor/yang harus terus menyala/menerangi segala yang gelap/agar tak ada ruang bagi kebohongan//” (Maristya Cahya Lupita, "Anak Panah dan Obor”, halaman 134)
Sayang, dalam Boeng masih banyak—dan dengan kerumunan yang lebih mendominasi—puisi yang perlu polesan.
Baca juga: Salat Berjemaah di Masjid Agung Batang Dibatasi, Tempat Ibadah di Jalur Pantura Diminta Hal Sama
Baca juga: Video PPKM Darurat Kab Pekalongan, Polisi Bubarkan Kerumunan Tutup Jalan ke Alun-alun
Perlu pengendapan.
Nah, dalam perkara pengendapan, rasanya, penggalan puisi "Puisi Lebih Berbahaya dari Singa" (halaman 145) karya Nila Sinta Fitriyani bisa menjadi semacam autokritik. Nila menulis, "//aku terbit dari pecahan puisi/yang melukai mata/sebab penyair lebih sering mengemban/bayi-bayi prematur/belum ditimang dengan selendang renung...//" (*)
--Armydha K Humaam, penikmat senja, buku, dan puisi, tinggal di Semarang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/cover-buku-boeng.jpg)