OPINI
OPINI Muhamad Mustaqim : Akademisi dan Tikungan Publikasi
BEBERAPA waktu lalu, seorang teman harus merelakan “kegagalan” kenaikan pangkatnya pada suatu level.
Kecenderungan jurnal yang “aji mumpung” Scopus ini – saya tidak mau menggunakan istilah jurnal predator, jurnal jahat, atau jurnal curang – sebetulnya didukung oleh permintaan yang luar biasa besar dari para penulis.
Bahkan ada “calo” yang menjajakan jurnal ini dengan iming-iming kemudahan dan akses instan. Dan asal tahu saja, sang calo ini memainkan “pekerjaannya” secara berjejaring, bahkan bisa dikata semi- MLM. Kecenderungan ini tentu saja tidak sehat bagi iklim akademik kita.
Melihat fenomena ini, tentu saja harus ada regulasi yang aman dan nyaman untuk para akademisi. Sehingga para akademisi kita tidak terperangkap di tikungan publikasi. Ada yang sudah dengan yakin dan optimis publish di Jurnal bereputasi, namun pada akhirnya menjadi “zonk”, seakan mendapat “prank”. Sehingga, yang tidak kalah penting adalah sosialisasi dan literasi terhadap regulasi bagi para akademisi ini.
Scopus memang bukan satu sistem yang sempurna dan tanpa cela. Ibarat kata Gus Baha – jika ini sitasi, maaf saya tidak tahu tahun dan penerbitnya hee – setiap sumur pasti ada peceren (pelimbahan). Berbagai fenomena dan problem di atas, barang kali merupakan peceren dari sebuah sistem, yang akan selalu ada dan tidak bisa kita elakkan. Demikianlah kehidupan. (*)
Baca juga: Hotline Semarang: Kapan 7 Pintu Exit Tol di Kota Semarang Dibuka?
Baca juga: Fokus : Berhenti di Kamu
Baca juga: Chord Kunci Gitar Tersiksa Lagi - Utha Likumahuwa
Baca juga: Info Pemeliharaan Jaringan Listrik Mangunharjo PLN ULP Semarang Timur Senin 19 Juli 2021
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-wisuda_20151106_134653.jpg)