Breaking News:

Berita Kabupaten Tegal

Terdampak PPKM Darurat, Pengelola Bisnis Penginapan di Guci Tegal Jual Aset untuk Menyambung Hidup

Penutupan wisata, terutama di area pemandian air panas Guci yang dilakukan bertahap, sejak Juni 2021 lalu, sangat berdampak pada bisnis penginapan.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/DESTA LEILA KARTIKA
Wisma Seroja salah satu penginapan yang dikelola oleh Sopan, berlokasi di area Objek Wisata Guci Kabupaten Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali bertujuan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 yang terus meningkat. 

Namun pada kenyataannya banyak yang terdampak, terutama mereka yang usahanya sementara waktu harus tutup seperti sektor pariwisata dan penginapan.

Hal inilah yang dirasakan oleh Wakil Ketua Paguyuban Homestay dan Villa Guci yang juga pemilik Wisma Pelangi dan Seroja, Sopan Sofianto.

Penutupan wisata, terutama di area pemandian air panas Guci yang dilakukan bertahap, bahkan sejak Juni 2021 lalu, sangat berdampak pada Sopan dan pengelola penginapan lainnya.

Terlebih muncul kebijakan PPKM Darurat Jawa-Bali mulai tanggal 3-20 Juli, kemudian berlanjut sampai tanggal 26 Juli, dan terbaru PPKM sesuai level dan Kabupaten Tegal masuk level 4 kembali diperpanjang sampai 2 Agustus 2021.

Baca juga: Warung dan Toko Boleh Buka, Kapolres Tegal Kota Pastikan Kelonggaran PPKM akan Terpantau

Baca juga: Gubernur Jateng Gelar Rembug Desa, Kades di Banyumas Tawarkan Cara Tangani Covid-19 kepada Ganjar

Baca juga: Pendataan Vaksinasi Sasaran Ibu Hamil di Karanganyar, Dinas Kesehatan: Ada 2.523 Orang

Baca juga: Video Aksi Ekstrem Pekerja Pasang Banner di Balai Kota Semarang, Peralatan Lengkap

"Jujur adanya penutupan sementara wisata khususnya di Guci sangat berpengaruh buat saya pribadi dan juga teman-teman yang lain. Bisa dibilang kondisinya memprihatinkan sekali, karena saya sampai harus menjual motor untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan sehari-hari," ungkap Sopan, pada Tribunjateng.com, Senin (26/7/2021).

Bahkan Sopan menyebut, tidak hanya dirinya saja yang sampai menjual motor untuk menyambung hidup, teman-teman yang lain sesama pengelola home stay, vila, dan lainnya juga sama-sama menjual aset mereka untuk bertahan hidup.

Ditanya apakah sejauh ini sudah mendapat bantuan dalam bentuk apapun, Sopan mengatakan belum menerima bantuan sama sekali sampai saat ini.

Sehingga, ia sangat berharap pemerintah memberikan solusi bagaimana supaya mereka para pelaku wisata dan penginapan di dalamnya tetap bisa bertahan serta menafkahi keluarga.

"Jujur kami bimbang, dan bingung mau mencari utang di mana lagi, Karena sampai sekarang pun belum ada kejelasan kapan wisata bisa kembali beroperasi. Sudah sebulan bahkan lebih wisata ditutup, kami hanya mengharapkan ada solusi, itu saja," harapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved