Breaking News:

Berita Solo

Kasus Ancaman Kekerasan Nakes RSUD Ngipang, Polresta Solo: Silakan Selesaikan secara Kekeluargaan 

Polresta Solo mempersilakan bagi pihak yang bermasalah dalam kasus ancaman kekerasan terhadap tenaga kesehatan secara kekeluargaan.

Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/MUHAMMAD SHOLEKAN
Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Polresta Solo masih mempersilakan bagi pihak yang bermasalah dalam kasus ancaman kekerasan terhadap tenaga kesehatan (nakes) di RSUD Ngipang Solo untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. 

Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak menjelaskan, langkah tersebut bisa dilakukan mengingat kasus yang terjadi pekan lalu itu belum lanjut ke proses hukum lebih lanjut. 

"Apabila nanti ada kesepakatan dari pelaku mau mengakui kesalahan dan meminta maaf serta berjanji tidak mengulangi. Kemudian dari korban berlapang dada, mau memaafkan," ucap Ade, Kamis (29/7/2021). 

Menurutnya, pihak Polresta Solo akan memfasilitasi proses Restorative Justice (RJ) terhadap kasus tersebut apabila sudah ada kesepakatan damai antar kedua belah pihak. 

Baca juga: Pelaku Lempar Batu Truk Tertangkap di Bandungan, Diduga Idap Sakit Jiwa, Polisi Membawanya ke RSJ

Baca juga: Berjam-jam Kakek Safar Cuma Berdiri Bingung di Lokasi Vaksin, Ternyata Mau Daftar Tak Punya Ponsel

Baca juga: Polda Jateng Klarifikasi Keramaian di Pendopo Museum RA Kartini Rembang, Itu Bukan Acara Hajatan

Baca juga: Kartu Vaksin Kini Jadi Syarat Wajib Mengurus Administrasi Kependudukan? Ini Penjelasan Kemendagri

"Hasil dari RJ ini yang nantinya akan kita laporkan ke pengadilan untuk ditetapkan dalam bentuk penghentian perkara sebagai dasar kita mengeluarkan SP3," jelasnya. 

Secara hukum, menurut Ade, merupakan bentuk tindak pidana masuk dalam Pasal 335 KUHP tentang Ancaman Kekerasan. 

"Dalam kasus ini kita lapisi juga dengan Undang-undang Wabah Penyakit Menular karena yang dilakukan pelaku melakukan pertentangan dan itu sangat berbahaya dalam menanggulangi pemutusan angka persebaran covid," tuturnya. 

Mantan Dirreskrimsus Polda Lampung itu mengungkapkan, kasus penolakan seperti ini baru kali pertama terjadi di Kota Solo. 

Dia berharap ke depan tidak ada kasus serupa terjadi. 

"Jadi pemulasaraan jenazah covid itu dilakukan sesuai SOP, di mana dari sisi petugas, perlakuan terhadap jenazah sampai pemakamannya dengan dukungan sarpras yang sudah diatur guna mencegah penularannya," ungkapnya. 

Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Solo AKP Djohan Andika menyampaikan, pihaknya sudah memeriksa 5 orang saksi. 

“Yang sudah kita panggil di antaranya korban yang diancam, kemudian saksi sekitar yang melihat kejadian tersebut,” tuturnya. 

Setelah itu, lanjut Djohan, barulah pihak kepolisian bakal memanggil terduga pelaku ancaman verbal. 

Baca juga: PPKM Diperpanjang, Porwil Dulongmas Ditunda

Baca juga: Chord Kunci Gitar Pelan Pelan Kau Menjauh Cinta Kuya

Baca juga: DLH Kota Semarang Imbau Warga Isoman Memilah Sampah Infeksius di Safety Box

Baca juga: Video Kandang di Jepara Terbakar 5 Kerbau Terpanggang

Namun pemeriksaan bakal dilakukan setelah hasil PCR dari terduga keluar. 

“Kemarin yang bersangkutan kita beri kesempatan untuk menyelesaikan pemakaman istirnya. Kemudian yang bersangkutan harus swab dulu, setelah hasilnya negatif, baru kita lanjutkan untuk penyelidikan yang bersangkutan,” tandasnya. (*) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved