OPINI
OPINI Beni Setia : Sungai dan Kita
SAAT seorang kawan penyair kelahiran dan besar di Yogyakarta, berpergian ke Kalimantan Selatan, dan termenung (melihat) titik pertemuan dua sungai
Jaga keserasian
Tradisi ini, keyakinan itu, yang membuat sungai jadi wilayah lain. Si yang tidak boleh sembarangan dijelajah manusia seperti juga gunung dan hutan liar, misalnya.
Dan asumsi mistis itu juga ujaran perlambang untuk selalu harmonis menjaga keserasian, dengan yang gaib, si penghuninya, itu membangun ketakutan dan motif toleransi tidak boleh serakah menguasai segala, yang itu perlahan membangun keseimbangan alam yang kukuh.
Anggapan, bahwa alam itu tidak hanya buat manusia berupa habitat yang tampak, tapi juga buat si mahluk gaib yang menghuni dimensi mistis dari habitat alam seperti yang diasumsikan manusia Baduy di Baduy Dalam, misalnya.
Tapi apa (kini) semua kebajikan harmonis itu masih tetap dipercaya? Atau diabaikan, hingga terdorong syahwat agar semuanya kekayaan alam dikuasai bahkan identitas dan eksistensi yang gaib ditiadakan dengan asumsi materialistik?
Demi memuaskan nafsu kemaruk di satu sisi serta, di sisi lain, memiliki segalanya melawan fakta total manusia akan terus bertambah, dan dikutuk tidak merasa puas sebab kekurangan seperti diasumsikan Malthus?
Salah satu asumsi tentang sastra bermotif lingkungan ekologi itu, bermakna kita harus kembali melihat sebagian alam sebagai tempat hidup dan tinggal (mahluk) yang gaib, yang memisahkan diri dan hidup di habitat alam yang wingit. Kita hidup berdampingan, dan karenanya wajib saling menjaga dan menghormati.
Karena itu alam harus dijaga keangkerannya. Tak lagi dianggap sebagai gangguan, dan hanya dianggap obyek yang bisa dimanfaatkan secara aturan Liberalis atau Neo-Liberalis hingga alam tidak lagi memiliki aura apa-apa, selain aspek material yang bisa dijual atau jadi media untuk bertanam dengan komoditi yang bisa dijual.
Atau jadi tantangan ruang hingga manusia jadi perkasa karena bisa membangun di tempat sulit, dan itu bermakna prestasi memanusiakannya, meski itu bermakna membuang aura gaib dari si yang menghuninya.
Mungkin. Tapi beranikah kita memeriksa asumsi kemaruk liberalian itu, hingga berani menolak mengeksploitasinya, serta menjauhi anggapan semua hanya bermakna bila itu semua bisa dijual dan laku dijual? (*)
Baca juga: OPINI IKA RINAWATI : Dilema PAUD Di Masa Pandemi
Baca juga: OPINI Udi Utomo : Mendidik Berpikir Kritis Sejak Dini
Baca juga: OPINI Djoko Subinarto : Laptop Merah Putih
Baca juga: OPINI Satrio Wahono : Instrumen Investasi Menarik di Era Pandemi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/banjir-bandang-jerman-belgia.jpg)