Berita Saham
Saham Bukalapak menjadi Terbesar Sepanjang Sejarah Bursa Saham RI
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, pencatatan saham bukalapak perdana atau initial public offering (IPO) PT Bukalapak.com
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan, pencatatan saham bukalapak perdana atau initial public offering (IPO) PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menjadi era baru bagi pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan, pertama kalinya sebuah perusahaan startup teknologi unicorn secara resmi mencatatkan sahamnya di BEI.
"Selain itu, dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 21,9 triliun, menjadikan IPO Bukalapak sebagai yang terbesar dalam sejarah bursa saham di Indonesia," ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (6/8).
Inarno berharap, langkah BUKA itu akan diikuti perusahaan-perusahaan teknologi lain guna semakin meningkatkan kapitalisasi pasar modal Tanah Air.
“Kami menyambut Bukalapak ke dalam daftar ternama perusahaan publik di BEI. Momen ini merupakan sebuah tonggak sejarah dan era baru bagi BEI," katanya.
Inarno menuturkan, BUKA menjadi perusahaan dengan minat investor terbanyak, tercatat sekitar 96 ribu investor berpartisipasi pada IPO perseroan.
Saham Bukalapak langsung melesat 25 persen bertengger ke level Rp 1.060 per saham pada momen pertama kali melantai di bursa. Mengutip RTIInfokom, asing terpantau melepas kepemilikan senilai Rp 132,28 miliar.
Sekadar informasi, Bukalapak menunjuk UBS AG Singapore Branch dan Merrill Lynch (Singapore) Pte. Ltd sebagai Koordinator Global Gabungan dan Agen Penjual Internasional (Joint Global Coordinators and International Selling Agents) untuk memasarkan IPO pada investor internasional.
Sementara itu, PT Mandiri Sekuritas dan PT Buana Capital Sekuritas ditunjuk sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek (Joint Lead Managing Underwriters).
Adapun Penjamin Emisi Efek adalah PT UBS Sekuritas Indonesia, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Ciptadana Sekuritas Asia, PT Investindo Nusantara Sekuritas, PT Lotus Andalan Sekuritas, dan PT Panin Sekuritas Tbk.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira berujar, ada euforia berlebihan dengan melejitnya saham Bukalapak. Padahal, saham perusahaan itu masuk ke dalam emiten berisiko tinggi bagi investor fundamental.
"Ada euforia yang berlebihan, karena investor retail melihat Bukalapak salah satu unicorn yang valuasinya besar, meskipun secara profit belum menghasilkan," paparnya.
Menurut dia, investor tidak berharap pada dividen, tapi pada kecepatan pertumbuhan harga saham.
Di sisi lain, kelas menengah ke atas sedang mencari aset yang keuntungan jangka pendeknya tinggi di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4, di mana sektor usaha banyak yang terpukul.
"Jadi ini fenomena psikologis pasar yang tertarik ke aset dengan pertumbuhan tinggi, spekulatif di saat ekonomi tertekan," tuturnya.
Bhima mencontohkan, fenomena serupa pernah terjadi pada 1998 ketika krisis Asia. Saat itu, ucap Bhima, startup yang melantai di bursa saham dan akhirnya meledak menjadi dotcom bubble (gelembung internet).
"Masalah investasi di saham yang spekulatif adalah myopic syndrome, yakni investor hanya melihat sentimen jangka pendek, mau cepat cari untung tapi tidak melakukan analisis lebih mendalam," ucapnya.
Padahal, menurut dia, seharusnya investor retail melihat historis, sehingga euforianya tidak berlebihan, tetap melihat prospek, kinerja dan tren jangka panjang. (Tribun Network/nas/van/wly)
Baca juga: Saham Bukalapak Melesat 25%, Bhima: Ada Euforia Berlebihan
Baca juga: Raih Rp 21,9 Triliun, IPO Bukalapak Terbesar Sepanjang Sejarah Bursa Saham RI
Baca juga: Bukalapak Resmi Melantai di Bursa Saham, 96.000 Investor Antusias Bergabung di Unicorn Indonesia
Baca juga: Mudahnya MIA Dapat Duit Rp 54 Juta, Bikin 5 Toko Palsu di Bukalapak, Manipulasi Cashback J&T
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bukalapak.jpg)