OPINI
OPINI Opik Mahendra : Petani Rempah Ngalap Berkah
SUDAH hampir dua tahun kita hidup dalam kondisi pandemi. Semenjak itu pula segala daya upaya dilakukan baik oleh Pemerintah ataupun masing-masing
oleh Opik Mahendra, SP, MSc.
Kasi Bina Usaha, Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng
SUDAH hampir dua tahun kita hidup dalam kondisi pandemi. Semenjak itu pula segala daya upaya dilakukan baik oleh Pemerintah ataupun masing-masing individu dalam melawan virus corona dengan meningkatkan dan menguatkan imun tubuh.
Satu di antaranya dengan mengonsumsi rempah-rempah yang tersedia di hampir setiap sudut lahan pekarangan.
Hal ini diperkuat dengan statement Guru Besar Biologi Molekular, Universitas Airlangga, Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom mengatakan masyarakat Indonesia dapat mengkonsumsi rempah-rempah asli Indonesia untuk bisa menangkal virus masuk ke dalam tubuh.
Beberapa jenis rempah mengandung zat antiinflamasi, antioksidan dan antivirus sehingga mampu meredakan peradangan dalam tubuh sehingga tingkat keparahan Covid-19 lebih rendah. Imun yang kuat pasti akan membantu tubuh untuk melawan kuman dan virus yang menyerang sel tubuh manusia. Kekebalan tubuh yang kuat akan memperkecil atau meniadakan peluang masuknya virus ke sel tubuh kita melalui cara apapun.
Produksi rempah di Indonesia didominasi oleh lada, pala, dan cengkeh. Menurut data yang dikeluarkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, Indonesia selalu menduduki peringkat tiga besar dunia sebagai produsen rempah pilihan.
Apalagi pada masa pandemi saat ini, rempah merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di seluruh dunia sebagai salah satu cara untuk menjaga kondisi imun tubuhnya. Hal ini bisa menjadi peluang yang besar bagi Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor rempah dunia.
Pengekspor rempah
Kondisi tersebut merupakan momentum mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai Negeri Rempah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor pertanian mencapai US$ 0,30 miliar. Capaian ini mengalami kenaikan sebesar 0,91%. Kenaikan terjadi karena produk pertanian seperti biji kakao, sarang burung walet, tanaman obat, aromatik dan sub-sektor rempah-rempah mengalami peningkatan signifikan.
Sektor pertanian selama ini memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan ekonomi, baik dalam kontribusi ekspornya maupun kontribusi meningkatkan pendapatan masyarakat. Di sisi lain sektor pertanian juga berkontribusi dalam penyediaan pangan “functional food” yang sangat penting.
Tantangannya adalah dalam pengolahan penanaman rempah yang terkontaminasi bahan kimia, harga jual hasil panen yang rendah, panjangnya rantai distribusi pemasaran hasil panen dan tidak ada teknologi tepat guna untuk pengolahan pasca panen menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi petani.
Tantangan selanjutnya, seiring dengan pertumbuhan penduduk lambat laun komoditas rempah rempah seperti Jahe, Temulawak, Kunyit, Kencur, Lada, Pala, Cengkih, Vanili, Ketumbar semakin langka dikarenakan kebutuhan tanaman pangan semakin meningkat, produksi pangan dituntut semakin meningkat, luas tanam komoditas tanaman pangan semakin bertambah sehingga tanaman rempah tergeser.
Ditambah lagi, produksi rempah yang sekarang merupakan hasil pengembangan varietas yang sudah lama dari 20-30 tahun lalu. Di lain sisi, kondisi perkebunan rempah milik rakyat masih pada kondisi memprihatinkan pada umumnya kurang terawat dan usia tanaman sudah melewati batas usia tanaman membuat produktivitas menurun ditambah kondisi cuaca yang tidak kondusif mengakibatkan serangan hama meningkat pada akhirnya kualitas produksi juga turut menurun.
Potensi Agroindustri
Jika menilik sejarah, pada abad ke-16, Portugis datang ke Indonesia melalui penjelajahan samudera untuk mencari rempah-rempah yang merupakan komoditas primadona di masa itu.
Rempah-rempah menjadi bahan dasar di berbagai bidang, terutama makanan dan kesehatan. Tidak heran jika banyak negara, terutama negara barat seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris yang melakukan pelayaran bersama armada maritimnya untuk mengelilingi dunia mencari rempah-rempah tersebut.
Dari data Negeri Rempah Foundation, ada sekitar 400-500 spesies rempah di dunia, 275 di antaranya ada di Asia Tenggara dan Indonesia menjadi yang paling dominan hingga kemudian Indonesia dijuluki sebagai Mother of Spices.
Beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan DI Yogyakarta.
Tata kelola
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok rempah dunia yang dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Apalagi, nilai impor (permintaan) dunia terhadap rempah-rempah setiap tahunnya mengalami kenaikan sebesar 7,2% dengan nilai mencapai USD 10,1 miliar.
Rempah-rempah Indonesia banyak digunakan untuk produk obat tradisional, produk kecantikan atau kosmetik, farmasi, bumbu masak, parfum, sabun, dan masih banyak produk lainnya lagi. Iklim tropis menjadikannya sebagai daerah yang memiliki keragaman rempah-rempah dan juga menjadi tempat yang mudah membudidayakannya.
Penggunaan pola pengembangan lahan tanam yang ramah lingkungan mampu menjadikan lahan mampu menyediakan nutrisi secara alami dengan memanfaatkan tenaga surya untuk proses pengeringan. Pengolahan secara alami ini pun menghasilkan produk organik yang berkualitas tinggi.
Sarana produksi dan teknologi yang belum memadai, keterbatasan bibit unggul, tata niaga dan tata kelola yang belum efisien menjadi persoalan tersendiri sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi rempah Indonesia menurun hingga 40-60% dari kualitas standar yang diakui pasar dunia. Akhirnya, untuk mengatasi persoalan tersebut, sedikitnya ada tiga hal yang perlu dilakukan yaitu penerapan teknologi, standar mutu dan pengolahan.
Dari sisi adopsi inovasi teknologi, produksi rempah saat ini masih didominasi petani rakyat sehingga pembentukan klaster dan penguatan kelompok tani menjadi kunci.
Dari segi peningkatan mutu komoditas, pemerintah harus turun tangan melakukan pendampingan dalam pelaksanaan Good Agricultural Practices (GAP) yang meliputi penyiapan lahan, pemupukan, pengairan, perlindungan tanaman, penanganan panen dan pasca panen serta pemasaran.
Terakhir, dari sisi pengolahan, mengurangi penjualan dalam kondisi mentah agar terjadi peningkatan nilai ekonomis (added value) yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap kerusakan saat proses distribusi. (*)
Baca juga: OPINI Riza Maulana : Mewaspadai Kelompok OTG dalam Penyebaran Virus Covid 19
Baca juga: OPINI DR H Aji Sofanudin : Taawun untuk Indonesia
Baca juga: Opini Ir Sumarwanto, MT: Mencapai Generasi Emas dengan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan YME
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/opik-mahendra_20180526_101438.jpg)