Cerita Rakyat Asal-usul Selat Bali
asal usul Selat Bali Manik Angkeran adalah pemuda yang gagah, berani dan pandai. Namun, manik Angkeran memiliki sifat yang bertolak belakang dengan ay
Penulis: Puspita Dewi | Editor: abduh imanulhaq
Naga Besukih menyuruh Sidi Mantra untuk mengambilnya. Kemudian Sidi Mantra mengambil emas dan intan tersebut serta mengucapkan terima kasih.
Sidi Mantra pun kembali ke rumahnya dan menyerahkan emas dan intannya kepada Manik Angkeran tidak lupa Sidi Mantra menasehati Manik Angkeran agar Manik Angkeran tidak melakukan judi lagi dan membayar segera hutang-hutangnya.
Tetapi kenyataan berkata lain Manik Angkeran tetap saja melakukan judi.
Dengan kesalnya Sidi Mantra lagi-lagi membantunya. Ia kembali menemui Naga Besukih.
“Ada apa lagi Begawan Sidi Mantra? Mengapa engkau memanggilku lagi?” tanya Sang Naga Besukih.
“Maafkan aku Naga Besukih, sekali lagi aku memohon bantuanmu agar aku bisa membayar hutang-hutang anakku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi dan aku sudah menasehatinya agar tidak berjudi, tapi ia tidak menghiraukanku.” mohon Begawan Sidi Mantra.
“Anakmu rupanya sudah tidak menghormati orang tuanya lagi. Tapi aku akan membantumu untuk yang terakhir kali. Ingat, terakhir kali.”
Naga Besukih pun menggeliat dan keluarlah emas dan intan dari tubuhnya lalu Sidi Mantra memilihi harta tersebut dan memohon diri. Setibanya di rumah Sidi Mantra segera melunasi hutang-hutang Manik Angkeran.
Manik Angkeran heran mengapa ayahnya begitu mudah mendapatkan harta. Maka Manik Angkeran bertanya pada ayahnya, “Ayah, darimana ayah mendapatkan semua kekayaan itu?
“Sudahlah Manik Angkeran, jangan kau tanyakan dari mana ayah mendapat harta itu. Berhentilah berjudi dan menyabung ayam, karena itu semua dilarang oleh agama. Dan inipun untuk terakhir kalinya ayah membantumu. Lain kali apabila engkau berhutang lagi, ayah tidak akan membantumu lagi.” Jawab ayahnya.
Tidak juga sembuh, Manik Angkeran kembali berjudi dan terlilit hutang. Namun sang ayah sudah tidak mau lagi membantunya.
Sehingga Manik Angkeran bertekad untuk mencari tahu sumber kekayaan ayahnya didapat dari mana.
Kemudian ia pun bertanya-tanya kesana kemari dan beberapa temannya memberi tahunya bahwa ayahnya mendapatkan kekayaan di Gunung Agung.
Begitu serakahnya Manik sampai-sampai ia berani mencuri genta milik ayahnya dan ia pergi ke Gunung Agung untuk mencari harta.
Setelah Manik Angkeran sampai di Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan genta milik ayahnya. Karena merasa terpanggil Naga besukih pun merasa terpanggil oleh suara genta tersebut.