Minggu, 26 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Warga Afghanistan Makin Miskin: Kami Tak Punya Apa-apa untuk Dimakan

Warga Afghanistan bertahan hidup dengan menjual barang-barang mereka ke pasar loak di ibu kota Kabul, bahkan menawarkan dengan harga terendah.

Editor: Vito
WAKIL KOHSAR / AFP
Foto yang diambil pada Minggu (12/9/2021), menunjukkan seorang wanita melihat barang-barang rumah tangga bekas yang dijual di pasar di lingkungan barat laut Khair Khana di Kabul. Pasar loak Kabul penuh dengan barang-barang yang dijual orang Afghanistan dengan harga sangat murah hanya untuk membayar makanan. 

TRIBUNJATENG.COM, KABUL - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada pekan lalu telah memperingatkan Taliban mengenai krisis kemanusiaan yang terus meningkat di Afghanistan.

PBB memperkirakan orang yang hidup di bawah garis kemiskinan di Afghanistan dapat meningkat dari 72 persen menjadi 97 persen pada pertengahan tahun depan.

Sebelum Taliban menguasai Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu, negara itu telah mengalami kemiskinan, menghadapi kekeringan, dan kekurangan pangan. Selain itu, tekanan besar juga terjadi pada layanan kesehatan Afghanistan yang disebabkan pandemi covid-19.

Dikutip Reuters, menindaklanjuti krisis tersebut, PBB mengadakan konferensi bantuan di Jenewa pada Senin (13/9/2021), untuk mengumpulkan lebih dari 600 juta dollar AS, atau Rp 8,5 triliun untuk diberikan kepada Afghanistan.

Sebanyak 18 juta warga Afghanistan yang belum bisa melarikan diri dari pemerintahan Taliban, kini bergantung pada bantuan asing.

Warga Afghanistan juga bertahan hidup dengan menjual barang-barang mereka ke pasar loak di ibu kota Kabul, bahkan menawarkan dengan harga terendah.

Dilansir CNA, pasar loak di Kabul kini dipenuhi dengan barang-barang yang dijual warga Afghanistan yang putus asa. Piring, gelas, dan peralatan dapur tampak ditumpuk tinggi di atas meja darurat di pasar luar ruangan.

Di sampingnya ada televisi tahun 1990-an dan mesin jahit Singer tua. Sementara karpet yang digulung disangga di sofa dan tempat tidur bekas.

Seorang warga Afghanistan mengatakan, kesempatan kerja semakin sedikit. Mereka hanya diizinkan untuk menarik uang 200 dollar AS atau Rp 2,8 juta/minggu dari rekening bank mereka, yang berarti persediaan uang tunai terbatas.

"Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan, kami miskin, dan kami terpaksa menjual barang-barang ini," kata Mohammad Ehsan, yang tinggal di sebuah permukiman di lereng bukit Kabul.

Ehsan datang ke pasar sambil membawa dua selimut untuk dijual. Dulu, ia bekerja sebagai buruh, tetapi proyek pembangunan dibatalkan atau ditunda. "Orang-orang kaya berada di Kabul, tetapi sekarang semua orang telah melarikan diri," ujarnya, kepada AFP.

Ehsan adalah satu dari banyak warga Afghanistan yang datang ke pasar loak untuk menjual apa yang bisa mereka tawarkan langsung kepada pembeli. Warga membawa barang-barang di punggung atau menjualnya di atas gerobak jalanan yang reyot.

Ehsan mengaku telah hidup melalui perubahan demi perubahan di Afghanistan. Ia pun kini waspada terhadap klaim perdamaian dan kemakmuran Taliban.

Sebab, harga pangan pokok meroket ketika Taliban terakhir berkuasa dari 1996 hingga 2001. "Anda tidak bisa mempercayai salah satu dari mereka," ucapnya.

Lebih jauh ke pasar, orang-orang bekerja untuk memperbaiki barang-barang listrik seperti stereo, kipas angin, dan mesin cuci sebelum menjualnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved