Breaking News:

Berita Internasional

Tokoh Taliban Usulkan Semua Institusi Pemerintah Dilarang Pria dan Wanita Satu Atap

Tokoh senior kelompok Taliban penguasa Afghanistan, mengatakan perempuan Afghanistan seharusnya tidak diizinkan bekerja bersama pria, menurut laporan

Editor: m nur huda
AAMIR QURESHI/AFP
Para mahasiswa bercadar memegang bendera Taliban saat mereka mendengarkan pembicara sebelum unjuk rasa pro-Taliban di Universitas Pendidikan Shaheed Rabbani di Kabul pada Sabtu (11/9/2021). [AAMIR QURESHI/AFP] 

TRIBUNJATENG.COM, NEW DELHI - Tokoh senior kelompok Taliban penguasa Afghanistan, mengatakan perempuan Afghanistan seharusnya tidak diizinkan bekerja bersama pria, menurut laporan Reuters pada Senin (13/9/2021).

Jika pernyataan itu diterapkan secara resmi, maka secara efektif perempuan Afghanistan mungkin akan dilarang bekerja di kantor-kantor pemerintah, bank, perusahaan media, dan lainnya.

Waheedullah Hashimi, seorang tokoh senior Taliban yang dekat dengan kepemimpinan, mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok itu akan sepenuhnya menerapkan versi syariah, atau hukum Islam menurutnya.

Hal itu akan tetap dilakukan, meskipun ada tekanan dari komunitas internasional untuk mengizinkan perempuan Afghanistan memiliki hak untuk bekerja di tempat yang mereka inginkan.

Sejak kelompok itu meraih kekuasaan bulan lalu, para pejabat Taliban mengatakan perempuan akan dapat bekerja dan belajar dalam batas-batas yang ditetapkan oleh syariah.

Tetapi ketidakpastian semakin besar tentang efek praktis apa yang akan terjadi pada kemampuan perempuan untuk mempertahankan pekerjaan mereka.

Ketika Taliban terakhir memerintah Afghanistan dari 1996-2001, perempuan dilarang bekerja dan mendapat pendidikan.

Masalah ini sangat penting bagi komunitas internasional dan dapat berdampak pada jumlah bantuan dan dukungan lain yang akan diberikan kepada warga Afghanistan, yang sedang mengalami krisis ekonomi.

Baca juga: Indonesia Akan Kucurkan Bantuan Dana USD 3 Juta untuk Afghanistan

"Kami telah berjuang selama hampir 40 tahun untuk membawa sistem hukum syariah ke Afghanistan," kata Hashimi.

"Syariah ... tidak mengizinkan pria dan wanita untuk berkumpul atau duduk bersama di bawah satu atap. Laki-laki dan perempuan tidak bisa bekerja sama. Itu jelas. Mereka tidak diizinkan datang ke kantor kami dan bekerja di kementerian kami."

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved