Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Bros Kupu-Kupu Berbahan Daun Sutra Soka Karya Agus Semarang Akan Dipasarkan Ke Switzerland

Agus Nursodiq (33) nampak sibuk menata berbagai perlengkapan sebelum ia berkarya. Ia berkreasi bros berbahan dasar daun sutra soka.

Tayang:
Penulis: budi susanto | Editor: moh anhar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Agus Nursodiq (33) nampak sibuk menata berbagai perlengkapan sebelum ia berkarya.

Tas rangsel berwarna coklat tua, ia tenteng ke teras Pesantren dan Rumah Kebudayaan bernama Surau Kami, yang terletak di Jalan Tusam Raya Nomor 26, Pedalangan, Banyumanik Kota Semarang.

Di teras tersebut ide dan kreativitas ia curahkan, untuk membuat kerajinan berupa bros kupu-kupu.

Karyanya bukan seperti bros pada umumnya, karena bahan dasar yang digunakan Agus dari daun sutra soka.

Pemuda 33 tahun asal Kendal yang pernah menjuarai ajang Technopreneur di Kendal pada 2013 silam itu, memilih bahan dari daun lantaran banyak ditemukan di pemukiman.

Baca juga: Kakek 98 Tahun Tewas Terbakar di Atas Kasur gara-gara Rokok

Baca juga: Diluncurkan dari Kereta Api, Rudal Terbaru Korea Utara Mampu Melesat 800 Km Per Jam

Baca juga: Puluhan Napi yang Selamat dari Kebakaran Lapas Tangerang Alami Trauma dan Mimpi Buruk

“Ya dari pada hanya berguguran dan terbuang lalu dibakar, lebih baik saya manfaatkan untuk membuat kerajinan,” jelas pria ramah tersebut, Jumat (17/9/2021).

Meski hanya dari daun, namun karya Agus telah tersebar ke beberapa daerah di Jateng, dan Jabar, seperti Kudus, Demak, Kota Semarang, Kabupetan Semarang, Kendal, Bandung dan beberapa daerah lainya.

Sembari sibuk merangkai dedaunan sutra soka, Agus menuturkan, produk kreatifnya juga akan dipasarkan ke Eropa.

“Rencananya seperti itu, tujuann pemasaran ke Eropa seperti Switzerland dan beberapa negara lainya. Kebetulan ada koneksi ke sana,” paparnya.

Agus menuturkan, pemasaran ekspor tersebut sebenarnya akan dilaksanakan beberapa tahun lalu, namun karena pandemi rencana ekspor baru akan dilakukan tahun ini.

“Pemasaran ke luar terkendala pandemi, namun kini kondisi sedikit membaik. Semoga saja bisa saya lakukan pengiriman produk ke sana. Tapi tetap kerajinan ini akan dimodifikasi, misal saya benamkan ke tempat tisu, atau lampu hias agar lebih bernilai,” katanya.

Di tengah perbincangan, ia menerangkan, awal bros yang ia buat berbahan kain, lalu dikembangkan ke bahan ramah lingkungan yaitu daun sutra soka.

“Kalau yang dari kain penjualannya lumayan, bisa 500 sampai 800 paket dalam sebulan, meski di tengah pandemi. Dan kini saya mengincar pasar Eropa lewat produk dari daun dengan harga satu paketnya Rp 250 ribu,” paparnya.

Ia menjelaskan selama ini masih mengandalkan pemasaran secara offline, namun dalam pemasaran produk terbarunya, ia sudah memiliki tim marketing secara online.

Baca juga: Kesepakatan dengan Australia Gagal, Prancis Merasa Ditikam dari Belakang & Tuduh AS Biang Keladinya

Baca juga: 3 Pria Mengaku Polisi Lakukan Penggerebekan, Sekap Penjaga Toko lalu Minta Tebusan Bos Korban

Baca juga: Ilmuwan India Olah Limbah Rambut Manusia Jadi Pupuk dan Pakan Ternak

Sebelum mengakhiri perbincangan, Agus menerangkan pembuatan karyanya dari daun sutra soka secara rinci.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved