Breaking News:

OPINI

OPINI Hamidulloh Ibda : Urgensi Kurikulum Tani Perguruan Tinggi

SAAT kecil, kita pasti ingat ketika orang tua dan guru-guru mengajak bermimpi lewat pertanyaan “apa cita-cita kalian?”

Tribun Jateng
Hamidulloh Ibda 

Oleh Hamidulloh Ibda

PJs Wakil Rektor I Institut Islam NU Temanggung.

SAAT kecil, kita pasti ingat ketika orang tua dan guru-guru mengajak bermimpi lewat pertanyaan “apa cita-cita kalian?” Sebagian besar menjawab dokter, polisi, TNI, hakim, PNS, guru, dan profesi lainnya yang dianggap mentereng. Hampir tak ada yang menjawab dengan tegas “saya ingin menjadi petani”. Mengapa demikian?

Ada beberapa penyebab dasar. Pertama, petani dianggap pekerjaan level bawah, kampungan, ndesa, bahkan “hina”. Parahnya lagi, para petani inferior dan justru tak mengajak anak-anaknya mencintai sawah, cangkul dan rumput. Padahal, anak-anaknya bisa kuliah adalah hasil dari pertanian. Namun ketika anak-anak mereka lulus dengan tegas berkata “masak aku sarjana disuruh mencangkul”. Bukankah ini fenomena menyakitkan?

Kedua, doktrin petani pada hakikatnya bagus, yaitu mengajak anak-anaknya bekerja kantoran, bersepatu pantofel, dan mendapat pekerjaan lebih baik daripada menjadi petani. Namun dampak buruknya mereka ibarat kacang lupa kulitnya. Sebab, menjauhkan anak-anak dari sawah justru bukan sebuah solusi.

Ketiga, kesalahan kurikulum dan materi pendidikan yang menempatkan petani sebagai pekerjaan kaum alit. Dari dulu hingga sekarang, buku-buku mengajarkan anak-anak untuk menjadi dokter dan profesi lain yang dianggap lebih bergengsi. Pada akhirnya, banyak generasi muda tak peduli lagi dengan sawah. Akibatnya, sawah dijual, lalu ditanami pabrik, dipupuk dengan sampah, dan disirami dengan limbah. Pemanasan global pun merajalela. Ini salah siapa?

Fenomena lainnya, hampir semua sarjana ketika pulang desa sangat jarang yang mau memikul cangkul dan bercocok tanam di ladang. Mereka gengsi dan menganggap sebagai kaum terdidik tak laik turun ke sawah. Padahal realitasnya tidak demikian. Kebanyakan para sarjana itu justru menjadi pengangguran terdidik. Mereka bangga dengan toga namun miskin pengalaman dan jauh dari pekerjaan.

Coba saja jika mereka tetap mencintai sawah. Ketika pulang membawa toga pasti tak akan menganggur karena mereka sudah punya kantor, yaitu sawah milik keluarganya. Namun, mengapa hal ini justru tak ada yang memperhatikan?

Sengkarut Pertanian

Harusnya kita membuka mata bahwa nemek moyang kita adalah petani dan pelaut. Negara kita agraris dan maritim yang jika diolah akan melahirkan kemandirian, kemerdekaan dan kedaulatan pangan. Cacatan Kementerian Agraria dan Tata Ruang (2020) menyebut di Indonesia terdapat 7.463.948 hektar lahan baku sawah. Luas baku lahan pertanian itu ternyata dari tahun ke tahun terjadi penurunan. Data BPS (2018) menyebut pada 2013 ada 7,75 juta hektare dan pada 2018 luas baku lahan pertanian menjadi 7,1 juta hektare.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved