OPINI

OPINI Quatly Abdulkadir Alkatiri : Stabilitas Harga Pangan

SISTEM perdagangan pangan dunia yang semakin terbuka atau pasar bebas menyebabkan harga produk pangan di dalam negeri dipengaruhi

Istimewa
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Quatly Abdulkadir Alkatiri. 

oleh Quatly Abdulkadir Alkatiri

Wakil Ketua DPRD Jateng

SISTEM perdagangan pangan dunia yang semakin terbuka atau pasar bebas menyebabkan harga produk pangan di dalam negeri dipengaruhi oleh situasi dan kondisi harga internasional. Kondisi tersebut dan ketersediaan dan distribusi, menyebabkan harga pangan terutama pangan seperti beras, kedelai, cabai, dan bawang merah berfluktuasi.

Indonesia sebagai negara agraris menghasilkan berbagai macam produk pangan strategis, bahkan untuk komoditas tertentu sudah surplus. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, mengamanatkan kepada Pemerintah Pusat dan bertanggung jawab atas ketersediaan bahan pangan pokok dan strategi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah Pusat telah membentuk Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebagai lembaga pemerintah di bidang pangan tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66 Tahun 2021 tentang Badan Pangan Nasional. lembaga ini merupakan tindak lanjut dari UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Badan ini bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden. Dalam Perpres disebutkan tugas dan fungsi utama Badan Pangan Nasional antara lain mengoordinasikan perumusan dan pelaksanaan kebijakan ketersediaan pangan, stabilisasi pasokan, serta harga bahan pangan.

Jenis pangan yang stabilisasi pasokan dan harganya ada di lembaga ini yaitu beras, jagung, kedelai, gula konsumsi, bawang, telur unggas, daging ruminansia, daging unggas, dan cabai. Provinsi Jawa Tengah memiliki luas 3.254.412 Ha. Sepanjang tahun 2016-2020, terjadi perubahan komposisi penggunaan lahan.

Kawasan peruntukan pertanian seluas ±1.801.076 Ha meliputi kawasan pertanian tanaman pangan seluas ±1.010.756 Ha, dan kawasan pertanian hortikultura seluas ±790,320 Ha berarti lahan pertanian pertanian Jawa Tengah 55% dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah, yang dikembangkan di semua kabupaten/ kota se-Jawa Tengah. Dalam rangka ketahanan, ketahanan, dan pangan pangan provinsi dilakukan dengan luasan kawasan pertanian pangan paling sedikit 1.025.255 Ha

Nilai Tukar Petani

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan petani yang dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani. Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi/rendahnya NTP contohnya biaya produksi, ketersediaan pupuk, pengaruh iklim.

Nilai Tukar Petani Provinsi Jawa Tengah pada akhir tahun 2020 sebesar 101,49 lebih rendah dibanding tahun 2019 sebesar 106,00. NTP Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan dengan NTP Nasional sebesar 103,25, namun paling tinggi dibandingkan dengan NTP provinsi lain di Pulau Jawa.

Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah pada Mei 2021 sebesar 99,28, atau naik 0,58 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 98,71. Data tersebut secara resmi dirilis melalui website BPS Jawa Tengah. NTP disebabkan indeks Harga yang diterima petani (lt) mengalami kenaikan 0,87 persen. Sementara indeks harga yang dibayar petani (lb) meningkat sebesar 0,28 persen. Dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Jawa Tengah Mei 2021 tercatat sebesar 98,56 atau naik sebesar 0,58 persen dibandingkan NTUP bulan sebelumnya sebesar 97,93.

Ada beberapa faktor atas kenaikan NTP dan NTUP di bulan Mei 2021. Kenaikan NTP pada bulan Mei 2021 ini pendorong utamanya adalah tanaman pangan, meningkat 1,42 persen. Demikian juga untuk beberapa tanaman perkebunan juga mengalami kenaikan seperti subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,74 persen, dan pertanian sebesar 1,19 persen, dua subsektor mengalami penurunan indeks meliputi indeks hortikultura sebesar -2,65 persen dan subsektor perikanan sebesar -0,38 persen .

Secara rinci, produksi padi Januari-Juni 2021 mencapai 6.146.661 ton, setara dengan 3.496.614 ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi 1,64 juta ton. Selain padi, komoditas lain yang mengalami peningkatan produksi, seperti bawang merah 186.109 ton dari 21.970 hektare, bawang putih 10.278 ton dari 1.672 hektare, cabe besar 64.219 ton dari 11.675 hektare, dan cabe rawit 91.979 ton dari 21.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved