Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Pakar Manajemen Perubahan Sebut Ada Dua Hal Tak Boleh Hilang dari Pendidikan Indonesia

Pakar manajemen perubahan Hendro F sebut ada 2 hal yang tak boleh hilang dari pendidikan.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: sujarwo
Dok. GWPP
Pakar manajemen perubahan Hendro Fujiono pembicara di forum Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerjasama dengan PT Paragon Technology and Innovation, melalui zoom, Selasa (9/11/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pakar manajemen perubahan Hendro Fujiono menyebut ada dua hal yang tak boleh hilang dari pendidikan Indonesia yaitu identitas dan semangat inklusifitas.

Identitas harus menjadi kebanggan be

Pakar manajemen perubahan Hendro Fujiono pembicara di forum Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerjasama dengan PT Paragon Technology and Innovation, melalui zoom, Selasa (9/11/2021).
Pakar manajemen perubahan Hendro Fujiono pembicara di forum Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerjasama dengan PT Paragon Technology and Innovation, melalui zoom, Selasa (9/11/2021). (Dok. GWPP)

rupa bahasa, adat istiadat, dan lainnya. Sedangkan inklusifitas dibutuhkan merangkul bukan memukul, baginya,keragaman adalah anugerah.

"Dua hal itu harus dipertahankan agar bangsa Indonesia menjadi semakin besar," terangnya saat menjadi pembicara di forum Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerjasama dengan PT Paragon Technology and Innovation, melalui zoom, Selasa (9/11/2021).

Ia menyebut, semisal ingin mengubah pendidikan harus melihat pendidikan sebagai Complex Adaptive System atau sistem yang memiliki dua karakteristik karena di pendidikan melibatkan banyak hal dari  siswa, orangtua, guru, dan lainnya.

Mereka adalah heterogenous agents, setiap agent memiliki keputusan berbeda-beda.

"Cara mengambil keputusan mereka juga berevolusi, semisal saat ini ada syarat kartu vaksin dan sistem zonasi. Setiap keputusan selalu berkembang," katanya.

Menurutnya, setiap ingin mengubah sistem pendidikan, pasti ada reaksi berbeda-beda. Di sisi lain, setiap orang juga memulainya di titik pangkal yang berbeda-beda.

Belum lagi ada kendala interaksi, perbedaan persepsi, kapabilitas dan perbedaan operasional.

Lantas, fundamental perubahan yang perlu dibangun yang pertama adalah perubahan dilakukan dengan perencanaan yang baik.

Ia menjelaskan, ketika ingin merubah dunia pendidikan harus pula memperhatikan faktor eksternal.

Dalam hal ini, ia membagi dunia saat ini menjadi dua yaitu Vuca atau zaman dari tahun 1980an dengan zaman Bani dari tahun 2020.

"Dunia sudah seperti ini, ketika ingin mendorong perubahan jangan menafikan kondisi ini karena itu real terjadi," terangnya.

Kedua, pemahaman yang baik dalam kebiasaan bersama dan perbedaan pengetahuan hal yang sangat penting.

Bangsa Indonesia harus tahu konteks jika hal itu dilakukan maka bisa adaptif, maka bangsa ini tak menjadi operator terus.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved