UKSW Salatiga
UKSW Kukuhkan Empat Guru Besar Bersamaan
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) resmi mengukuhkan empat guru besar atau profesor baru secara bersamaan pada sidang terbuka senat
Penulis: hermawan Endra | Editor: Catur waskito Edy
Wanita kelahiran Yogyakarta lima puluh tahun silam ini mengajak tenaga pendidik untuk menanamkan dan mengajarkan ketrampilan abad ke 21 (21st century skills) melalui berbagai project atau pun makalah akademis selama mahasiswa menjalani studi di level perguruan tinggi.
Kedua hal tersebut akan memacu peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, dan memiliki kemampuan problem-solving atau pemecahan masalah yang mumpuni.
Sementara itu melalui pidato ilmiah berjudul “Holistic Finance : Suatu Pendekatan Integratif dalam Manajemen Keuangan”, Prof. Apriani melakukan kajian dengan tujuan untuk melihat keputusan keuangan yang memadukan unsur akal, emosi dan spiritual.
Holistic finance merupakan paduan ilmu dan seni, yaitu suatu pendekatan integratif dalam manajemen keuangan yang berbasis pada keutuhan tubuh, jiwa dan roh manajer sebagai pengambil keputusan agar dapat menghasilkan keputusan keuangan yang berkualitas, etis dan bertanggungjawab.
Guru besar lainnya yakni Prof. Gatot Sasongko menyampaikan pidato ilmiah mengani pekerja anak. Mengusung judul “Pekerja Anak yang Dilarang yang Digadhang” disampaikannya bahwa pandemi yang terjadi termasuk di Indonesia meningkatkan jumlah pekerja anak.
Prof. Gatot yang telah mengawali karier sebagai pendidik sejak tahun 1980 ini menyebut banyak jurnal maupun artikel yang menyoroti sisi negatif pekerja anak, dilihat dari berbagai sisi seperti kesehatan, kejiwaan, pendidikan dan perkembangan sosial. Hal ini kemudian menjadi perhatian pemerintah dengan merativikasi konvesi ILO tentang larangan pekerja anak.
Namun dalam penelitiannya, Prof. Gatot menyoroti sisi lain dimana anak yang bekerja membantu untuk kelangsungan usaha orang tua. Pengenalan sejak awal usaha orang tua menjadi awal tekad untuk meneruskan bahkan memperbesar usaha orang tua.
Topik kepatuhan pajak menjadi tema dalam pidato ilmiah Prof. Theresia Woro yang saat ini menjabat sebagai Ketua Program Magister Akuntansi UKSW ini.
Prof. Woro menyampaikan fenomena dan pandangan kritis atas ketidakpatuhan pajak dengan pendekatan pada pelaku perpajakan yang bermuara pada usulan model harmonisasi antar pelaku perpajakan dalam rangka meningkatkan kepatuhan pajak di Indonesia.
Menurutnya, kepatuhan terhadap pajak menjadi masalah yang krusial bagi perekonomian Indonesia, bukan hanya pada saat terjadinya pandemi Covid 19 tetapi juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Adapun indikator yang menunjukkan belum optimalnya kepatuhan pajak di Indonesia adalah tax ratio yang rendah, tax gap yang tinggi, tax buoyancy, serta tidak tercapainya target penerimaan pajak selama lebih dari sepuluh tahun terakhir.
Menurut Prof. Theresia Woro keempat indikator di atas memperlihatkan adanya persoalan dalam sistem pajak di Indonesia yang membutuhkan perhatian serius untuk ditangani. Peran dunia pendidikan melalui kiprah akademisi diperlukan dalam rangka mengakselerasi kepatuhan pajak. (*)
Baca juga: Atlet Panahan Asal Purbalingga Berhasil Raih Medali Emas di Peparnas Papua
Baca juga: Data Lengkap Korban Kecelakaan Beruntun di Jalan Raya Solo-Purwodadi Sumberlawang Sragen
Baca juga: Jadi Solusi Penegakan Hukum, Kawasan Industri Hasil Tembakau Kudus Menjadi Impian Daerah Lain
Baca juga: Penampakan Ayam Pelung Harga Rp 5 Juta, Bisa Berkokok Lama Seperti Lolongan Serigala
