Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kesehatan

Nyamplung, Tumbuhan Berkhasiat Antibakteri hingga Antikanker

Pemanfaatan flora sebagai obat telah turun temurun dilakukan. Alasan awalnya cukup sederhana, yaitu kemudahan untuk mendapatkannya.

Tayang:
Editor: galih permadi
Budi Santoso/BKSDA Jateng
Nyamplung, Tumbuhan Berkhasiat Antibakteri hingga Antikanker 

TRIBUNJATENG.COM - Pemanfaatan flora sebagai obat telah turun temurun dilakukan.

Alasan awalnya cukup sederhana, yaitu kemudahan untuk mendapatkannya.

Namun seiring berjalannya perkembangan gaya hidup kemudian penggunaan herbal sebagai media terapi selain karena khasiat didalamnya juga karena alasan efek samping yang minimal.

Chalophyllum inophyllum L. atau yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan nama camplung, nyamplung, bintanguru, benaga, bintangur laut, atau naga merupakan keluarga Clusiaceae yang mempunyai manfaat untuk pengobatan.

Nama Chalohyllum berasal dari bahasa Yunani yaitu “kalos” yang artinya indah dan “phullon” yang berarti daun sehingga arti dari Chalohyllum yaitu daun yang cantik.

Manfaat
Nyamplung memiliki manfaat yang banyak bagi kehidupan antara lain sebagai pestisida, antifungi, antibakteri, antiinflamasi, antikanker, antivirus, hingga anti HIV.

Nyamplung yang diekstraksi dengan ethanol menunjukkan kemampuan menekan pertumbuhan fungi dari jenis Tricophyton simi dan Tricophyton mentagrophytes penyebab dermatofitosis pada manusia dan hewan.

Ekstrak kloroform juga mampu melawan fungi yang bersifat patogen bagi manusia.

Ekstrak metanol dari kulit batang nyamplung memiliki kemampuan antibakteri yang signifikan dalam melawan Pseudomonas aeurginosa, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Senyawa kumarin dalam nyamplung juga berpotensi dalam menghambat pertumbuhan fungi mikroskopis.

Hasil uji in vitro menunjukkan ekstrak kasar Nyamplung mampu dengan konsentrasi 50 μg/ml mampu menghambat aktifitas siklooksigenase sebesar 77% dan aktifitas lipooksigenase 88%.

Kedua enzim ini berperan dalam pengubahan asam arakidonat menjadi hidroperoksid ketika inflamasi terjadi.

Selain untuk bahan obat, senyawa metabolit sekunder yang bersifat sitotoksik pada Nyamplung dapat dimanfaatkan untuk peptisida.

Asap hasil pembakaran buah nyamplung yang matang bersifat repellent pada nyamuk dan getah dari batangnya bersifat racun pembunuh untuk tikus dan pembius bagi ikan.

Morfologi
Tanaman dari genus Calophyllum ini memiliki pohon dengan warna gelap dengan daun yang rimbun. Ketinggiannya berkisar 10-30 m.

Tumbuhnya agak bengkok hingga sejajar dengan tanah.

Daunnya tunggal bersilang berhadapan berbentuk bulat memanjang dengan banyak urat posisi lateral paralel dan halus.

Daun bagian atas berwarna hijau tua dan mengkilap.

Sedangkan,bagian belakang daunnya berwarna agak kekuningan.

Pohon ini bergetah kental berwarna putih kekuningan.

Bunga dari tanaman nyamplung ini memiliki tipe majemuk dan menghasilkan bau yang harum.

Umumnya biseksual, namun terkadang uniseksual fungsional. Bentuk tandan di ketiak daun yang teratas, diameter 2-3 cm, tujuh sampai tiga belas, daun kelopak empat tidak beraturan, daun mahkota empat, lonjong, putih.

Buah muda berwarna hijau dan yang sudah tua berwarna kekuning-kuningan, apabila dibiarkan lama buah berwarna seperti kayu, buah termasuk kategori buah batu, bulat seperti peluru dengan mancung kecil di depannya, panjangnya antara 25-50 mm.

Biasanya buah muncul 2 kali setahun. Biji berbentuk bulat tebal dan keras, berukuran relatif besar berdiameter 2-4 cm, daging biji tipis dan biji yang telah kering dapat tahan disimpan selama 1 bulan, inti biji mengandung minyak berwarna kuning kecoklatan.

Kandungan
Tumbuhan nyamplung merupakan tanaman yang seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan.

Baik daun, akar, kulit batang, buah, biji, minyak dari biji serta getahnya mengandung banyak manfaat bagi kehidupan.

Kandungan didalam tanaman ini antara lain banyak ditemukan senyawa xanthon, flavonoid, kumarin dan triterpenoid. Xanthon ditemukan pada ranting, cabang, batang, kulit batang, akar, kulit akar serta kayunya.

Sedang kumarin dan triterpenoid teridentifikasi pada daunnya. Kumarin merupakan senyawa paling dominan ditemukan pada biji dan minyak biji.

Ekologi
Habitat Nyamplung yang sesuai meliputi ketinggian 0-200 m di atas permukaan laut dengan curah hujan natara 1000-3000 mm/tahun. Nyamplung mampu tumbuh pada habitat bukan rawa dan pantai berpasir.

Sebaran
Nyamplung memiliki sebaran yang cukup luas di dunia dimulai dari Afrika, India, Asia Tenggara, Australia Utara. Di Indonesia sendiri hampir dijumpai di seluruh wilayah, terutama pada daerah pesisir pantai.

Sementara itu di Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Pati Barat Nyamplung dapat di temui di Cagar Alam Keling II/III yang terletak di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara.

Penulis

Budi Santoso
PEH Muda pada BKSDA Jateng
Kepala KPHK Pati Barat

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved