Smart Women
Andalkan Sumber Energi Listrik dari Panel Surya, Ariyani Garap Produksi Baju yang Ramah Lingkungan
Perjalanan Ariyani (39) dalam membangun usahanya berlabel M&M Daily Style tidak hanya memperhitungkan soal untung rugi.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Keberhasilan Ariyani (39) dalam membangun bisnisnya dapat dibilang berawal tanpa disengaja dan direncanakan.
Awal-awal, dirinya hanya ingin membantu mertuanya yang dipercaya menjadi ketua yayasan pada sebuah sekolah swasta di Kota Semarang untuk mengurusi pengadaan seragam sekolah.
Baca juga: Rangkuman Hasil Babak Pertama PSIS Semarang Lawan PSM Makassar
Baca juga: Hasil Akhir Skor 1-1 Persip Pekalongan Vs Persekap Pekalongan 10 Besar Liga 3 2021
Karena, konveksi langganan mertua seringkali tidak memenuhi target disebabkan terbatasnya tenaga menjahit.
Ariyani bercerita, dirinya secara personal juga tidak memiliki latar belakang pengalaman maupun pengetahuan menjahit, desain, dan hal lain tentang fashion.
Sebelum terjun berbisnis busana muslim dan menjalankan konveksi, dirinya selama hampir kurang lebih enam tahun bekerja pada sebuah perusahaan swasta.
“Tetapi, konveksi langganan mertua seringkali tidak memenuhi target disebabkan terbatasnya tenaga menjahit. Kebetulan ibu saya memiliki les menjahit dan konveksi, dari sana seiring berjalannya waktu tumbuh menjadi usaha yang mana juga memproduksi baju orang dewasa dan anak-anak serta busana muslim tidak hanya seragam sekolah,” paparnya
Ia menambahkan, brand M&M sendiri merupakan singkatan dari Mertua dan Menantu sebagai bentuk kolaborasi kerjasama usaha antara dirinya bersama sang mertua.
Ketia bisnis yang dirintis sejak 2011 itu mulai menunjukkan tren positif pada 2016, dirinya memutuskan keluar dari tempat kerja lama dan lebih fokus mengelola usaha bersama mertuanya.
Dia mengaku rentang tahun 2011-2014, M&M kata dia, belum melakukan produksi pakaian secara massif seperti sekarang.
Tetapi berdasarkan pesanan terutama dari sejumlah sekolah maupun lembaga yang ingin membuat seragam khusus.
Hingga kemudian, pada 2015 mulai dikelola secara profesional tidak hanya kualitas produk namun juga menyangkut pola pemasaran.
“Lalu, pada 2017 itu saya juga ikut inkubator bisnis bersama Womenpreneur Community Kota Semarang belajar banyak hal dalam mengelola bisnis, mulai menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dan sebagaianya. Kemudian, perlahan menggarap pangsa pasar digital, baik lewat media sosial atau marketplace. Alhamdulillah, tahun ini kami lolos 30 besar UMKM pendampingan Kemendag untuk pengembangan berorientasi ekspor, sekarang ini prosesnya masih terus berjalan, nama programnya Rebranding 2021,” imbuhnya
Ariyani menyebutkan, selain upaya mendorong sepenuhnya pemanfaatan sumber energi yang ramah lingkungan terkait pemanfaatan kembali limbah dari usahanya juga turut diperhatikan.
Beberapa sisa potongan kain lanjutnya, sebagian dibuat pakaian pakaian khusus anak-anak sedangkan bagian terkecil dijadikan masker untuk kemudian dijual kembali.
Perempuan asal Kota Semarang itu melanjutkan, konsep pemanfaatan bahan sisa itu dinilai memiliki dampak positif secara bisnis ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia sehingga usahanya pun tersendat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/perjalananariyani-33-11-2021.jpg)