Smart Women
Andalkan Sumber Energi Listrik dari Panel Surya, Ariyani Garap Produksi Baju yang Ramah Lingkungan
Perjalanan Ariyani (39) dalam membangun usahanya berlabel M&M Daily Style tidak hanya memperhitungkan soal untung rugi.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Pada awal-awal pandemi, penjualannya sempat mengalami penurunan drastis, sementara para pekerja tetap harus digaji.
Baca juga: Tanah Desa Sriwulan Hilang Ditelan Laut Sejauh 2 Kilometer dari Bibir Pantai Demak
Baca juga: Pemkab Pati Godok Raperda RPIK untuk Optimalkan Industri Lokal
Tidak hanya itu, sebagian omzet telah digunakan untuk produksi busana muslim bertujuan menyambut lebaran namun pandemi tiba-tiba datang otomatis lebih banyak yang tidak terjual.
“Tapi, namanya usaha ya bagaimana bertahan tidak menyangka dari memanfaatkan bahan-bahan itu lalu kami jadikan baju anak-anak usia 1 sampai 3 tahun dijual paketan maksimal seharga satu juta berisi 50 pcs baju. Jadi, kalau dihitung per pcs itu bajunya seharga Rp 25 ribu alhamdulillah laku sedikit banyak operasional kami terbantu,” kenangnya.
Pekerjakan Perempuan Lanjut Usia
Dalam rekrutmen tenaga kerja pilihan Ariyani (39) dapat dibilang berbeda dari kebanyakan pengusaha pada umumnya.
Jika umumnya pebisnis ramai-ramai menerima pekerja secara usia tergolong masih masa produktif bahkan memiliki ijazah sesuai bidangnya dirinya malah memilih mempekerjakan para orangtua lanjut usia (lansia).
Ariyani menyatakan, alasannya mempekerjakan para lansia sejak awal membangun usaha karena latar belakang pekerjaan ibunya mantan buruh pabrik garment.
Meski demikian, tidak sepenuhnya pekerja lansia langsung diterima bekerja di tempatnya melainkan mereka musti memiliki pengalaman bekerja terutama dibidang garment dan secara fisik masih mampu.
“Jadi soal lansia ini ada cerita, meskipun tidak sepenuhnya lansia tapi pekerja saya dulu rata-rata usia 40 tahun keatas ada yang sekarang usianya sudah 60 tahun masih kerja bareng kami. Itu, karena ibu saya dahulu pekerja pabrik garment, lalu memilih keluar kemudian teman-temannya mereka daripada menganggur lalu kita ajak bergabung anggaplah memberdayakan. Apalagi, secara pengalaman mereka bisa bekerja dan masih mampu,” jelasnya
Dia mengungkapkan, hal yang mendorongnya kemudian mempekerjakan orang-orang telah berumur lebih salah satunya karena tidak ada pillihan.
Ketika awal merintis usaha, dirinya mengalami kesulitan mencari pekerja lantaran hidup berpindah mengikuti suaminya dari Banyumanik bergeser ke Pedurungan Kota Semarang.
Pada sisi lain, terdapat sejumlah mantan pekerja pabrik garment memilih resaign dari perusahaan lama karena secara fisik tidak mampu melakukan perjalanan pulang pergi bekerja. Ditambah, sistem kerja dipabrik juga dituntut memenuhi target sesuai tanpa membedakan kelompok pekerja usia muda maupun tua.
“Alhamdulillah total kami ada pekerja 10 orang semuanya sampai sekarang bertahan sejak awal. Dulu pada 2011 kami masih terbatas pekerjakan tiga orang, perlahan bertambah. Kemudian yang secara freelance juga ada para ibu rumah tangga, jadi mereka mengambil bahan jahitan dari kami pengerjaan di rumah masing-masing. Yang tua pekerja kami usianya sudah 63 tahun, selebihnya masih 50 tahunan lebih,” paparnya
Lulusan STIKUBANK Semarang tersebut menjelaskan, selama ini busana muslim produksi M&M tidak hanya untuk memenuhi pangsa pasar di Pulau Jawa tetapi juga luar Jawa. Sejumlah daerah yang konsisten dilakukan pengiriman barang antara lain Jakarta, Depok, Surabaya, Sidoarjo, dan Padang. Mereka sebagian berstatus reseller sisanya penjual dalam bentuk grosir.
Tidak hanya memperhatikan masalah lingkungan serta pemanfaatan limbah agar tetap dapat dimanfaatkan terhadap para pekerjanya setiap bulan mereka diberikan bantuan berupa paket sembako. Kemudian, bentuk kontribusi kepada pihak eksternal sebagian hasil usaha disumbangkan melalui program Jumat Berbagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/perjalananariyani-33-11-2021.jpg)