Berita Kesehatan
Bandotan, Gulma Berbau Bermanfaat untuk Obat Diabetes
Bandotan (Ageratum conyzoides; Linnaeus, 1753) barangkali merupakan tumbuhan yang paling banyak ditemukan di seluruh negeri ini.
TRIBUNJATENG.COM - Bandotan (Ageratum conyzoides; Linnaeus, 1753) barangkali merupakan tumbuhan yang paling banyak ditemukan di seluruh negeri ini.
Kehadirannya mudah dikenali, selain bunganya yang khas berwarna putih keunguan tumbuhan ini juga punya bau yang menyengat.
Sebagai gulma, tumbuhan ini tentu saja menjengkelkan bagi petani.
Namun siapa sangka, ia mempunyai manfaat sebagai tumbuhan berpotensi obat.
Sudah banyak riset yang mengulik khasiatnya.
Manfaat
1. Antidiabetes.
Nyunai, et al., (2015) dalam Melisa dan Muctaridi (2017) menyebutkan bahwa tanaman Bandotan memiliki efek antihiperglikemik yang signifikan, dapat menurunkan kadar trigliserida serta meningkatkan kolesterol HDL.
Ekstrak daun bandotan diketahui memiliki efek antidiabetes dan dapat digunakan dalam pengobatan tradisional diabetes mellitus.
Ekstrak Bandotan mungkin memiliki kemampuan untuk melepaskan insulin dengan menstimulasi proses regenerasi dan revitalisasi sel β yang tersisa.
2. Ansiolitik
Ageratum conyzoides secara tradisional digunakan dalam pengobatan kelainan mental. Ekstrak metanol daun bandotan memiliki efek anti kecemasan/ansiolitik yang signifikan.
Berdasarkan penelitian Kaur dan Sarabjit tahun 2015 senyawa aktif yang berperan dalam efek ansiolitik adalah quercetin.
3. Antibakteri
Bandotan diketahui memiliki efek antibakteri yang bagus. Aktivitas antibakteri tersebut didapatkan dari komponen AC-1 yang diisolasi dari daunnya.
Menurut Mitra (2013) dalam Melisa dan Muctaridi (2017), komponen AC-1 dari tanaman bandotan menunjukkan efek antibakteri terhadap 4 jenis bakteri gram negatif dan 4 jenis bakteri gram positif.
4. Antiinflamasi
Ekstrak etanol daun bandotan diketahui memiliki efek antiinflamasi.
Menurut Hassan, et al., (2012) dalam Melisa dan Muctaridi (2017) ekstrak etanol bandotan menunjukkan efek yang signifikan dalam mengurangi edema pada tikus yang diinduksi dengan karagenan dan histamin.
Efek antiinflamasi didapatkan dengan menghambat sintesis dan pelepasan mediator inflamasi seperti prostaglandin, histamin dan serotonin.
Dalam Bandotan, senyawa berefek antiinflamasi adalah quercetin, kaempferol dan glikosidanya, tannin dan fenol.
Morfologi
Bandotan berbau khas yang keras. Tinggi dapat mencapai 120cm dengan batang berbentuk gilig yang tegak atau berbaring dan permukaannya berambut.
Daun berwarna hijau, dengan tangkai, 0,5–5 cm, duduk daun berseling berhadapan, berbentuk bundar telur hingga menyerupai belah ketupat, 2–10 × 0,5–5 cm; pangkal seperti jantung, membulat atau meruncing; dengan ujung tumpul atau meruncing.
Tepi daun bergerigi; permukaannya berambut panjang, dengan kelenjar di sisi bawah.
Bunga terdapat pada ujung batang. Bunga tunggal atau majemuk, yang berkelamin yang sama berkumpul dalam bongkol rata-atas.
Bunga dengan 3 bongkol atau lebih terkumpul dalam malai. Bongkol 6–8 mm panjangnya, dengan 60–70 individu bunga, terletak di ujung tangkai yang berambut, dengan 2–3 lingkaran daun pembalut yang lonjong.
Mahkota dengan tabung sempit, berwarna putih atau ungu.
Buah kurung (achenium) bersegi-5, panjang 2 mm; berambut sisik 5 dan berwarna putih.
Kandungan
Dari berbagai sumber, didapatkan beberapa zat yang ada dalam tumbuhan bandotan, antara lain; minyak esensial, alkaloid pirolizidina, dan kumarin.
Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun dan sebagian masyarakat memanfaatkannya sebagai insektisida dan nematisida.
Ekologi
Bandotan sering dijumpai di ladang atau sawah yang telah mengering. Bahkan di tepi jalan maupun pekarangan rumah.
Meski demikian Bandotan mampu tumbuh dengan baik hingga ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut.
Berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan.
Sebaran
Berasal dari Amerika selatan yang kemudian menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Bandotan dianggap sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat.
Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia.
Di Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Pati Barat, Bandotan dapat mudah ditemui di Cagar Alam (CA) Keling Iabc, CA Keling II/III, CA Kembang dan CA Gunung Celering yang berada di Kabupaten Jepara.
Penulis
Budi Santoso
PEH Muda pada BKSDA Jateng
Kepala KPHK Pati Barat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bandotan-gulma-berbau-bermanfaat-obat-diabetes.jpg)