Breaking News:

Berita Slawi

Pedagang di Kabupaten Tegal Tanggapi Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Awal Tahun Depan

Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI akan melarang penjualan minyak goreng curah mulai 1 Januari 2022.

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/ Desta Leila Kartika
Pedagang di salah satu kios penjual sembako, berlokasi di Pasar Trayeman Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat (3/12/2021). Ia terlihat sedang menakar minyak goreng curah untuk melayani pembeli.  

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI akan melarang penjualan minyak goreng curah mulai 1 Januari 2022.

Hal ini pun mendapat respon beragam dari masyarakat ada yang pro, tapi juga ada yang kontra. 

Menanggapi wacana tersebut, Penjual minyak goreng curah di Pasar Trayeman Slawi, Dian mengatakan, adanya  rencana pelarangan tidak terlalu berpengaruh di kios dagangannya. 

Karena di tempatnya tidak hanya menjual minyak goreng curah saja, tapi juga menjual minyak kemasan berbagai merek.

Baca juga: Loker Lowongan Kerja Karir Terbaru di Semarang Jumat 3 Desember 2021

Baca juga: Mobil Fortuner Kendaraan Dinas TNI Kecelakaan Ringsek dan Terbalik, Petugas Masih Minim Komentar

Baca juga: Memaksimalkan Pemanfaatan Aplikasi dalam Pembelajaran di Masa Pandemi

Bahkan Dian menyebut, wacana penarikan minyak goreng curah dari pasaran sudah beredar sejak tahun 2018 lalu. 

Sehingga ia mengaku tidak terlalu kaget, dan mengikuti aturan yang nantinya berlaku. 

"Kalau di kami sih tidak terlalu berpengaruh karena masih ada minyak goreng jenis lain. Malah yang paling terdampak itu seperti bakul gorengan, karena sebagian masih pakai minyak goreng curah. Saya ada tetangga sampai tidak jualan lagi karena harga minyak curah yang melambung. Ya intinya kami mengikuti aturan yang ada," ungkap Dian, pada Tribunjateng.com, Jumat (3/12/2021). 

Adapun sekarang ini, harga minyak goreng curah kisaran Rp 18.500 per kilogram. Sedangkan minyak goreng kemasan harga kisaran Rp 17 ribu - Rp 20.900 per liter. 

Harganya masih naik turun, sama seperti cabai dan telur ayam perubahannya terjadi setiap hari. 

"Sekarang kalau masih boleh menjual ya jual, kalau tidak ya kami menghabiskan stok minyak curah yang ada. Intinya kami tidak masalah dengan rencana tersebut," ujarnya. 

Terpisah, pedagang gorengan Nunung menuturkan, sejak awal ia berjualan gorengan tidak pernah menggunakan minyak goreng curah melainkan minyak kemasan.

Sehingga adanya wacana larangan penjualan minyak goreng curah mulai awal tahun depan tidak berpengaruh bagi Nunung.

Baca juga: Setelah Tabrak Bocah hingga Tewas, Sikap Oknum Polisi GT Dibeberkan Ayah Korban: Saya Bilang Tolong

Baca juga: Dampak Black Friday dalam Pertumbuhan Ekonomi

Baca juga: Tergiur Tawaran Akan Diramal, Gadis Belia Masuk Perangkap Pria Asusila

"Harga minyak goreng kemasan merek tropical saat ini Rp 20 ribu per liter. Padahal sebelumnya, jika ada kenaikan harga paling kisaran Rp 15 ribu, Rp 16 ribu, dan baru kali ini sampai Rp 20 ribu. Imbasnya omzet saya berkurang, karena saya tidak bisa menaikkan harga apalagi mengurangi ukuran gorengan," papar Nunung.

Berjualan gorengan sejak 21 tahun yang lalu, Nunung mengaku setiap harinya paling tidak menghabiskan 2,5 sampai 3 liter minyak goreng, bergantung sedikit banyaknya gorengan yang ia produksi.

"Dulu saya pernah pakai minyak curah tapi yang minyak sayur. Tapi setelah mengalami kenaikan harga saya tidak pakai lagi. Ya harapannya harga bisa kembali normal di angka Rp 15 ribu, sehingga omzet bisa utuh lagi tidak berkurang," harap Nunung. (dta)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved