Berita Cilacap
Penuhi Kualitas Selera Dunia, Kampung Sidat Kaliwungu Cilacap Jadi Percontohan Nasional
Bermula dari kolam budidaya skala kecil, ikan sidat di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, dikirim ke pasar luar negeri
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Bermula dari kolam budidaya skala kecil di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, ikan sidat kualitas nomor satu dikirimkan memenuhi selera dunia.
Pesanan dari restoran semakin banyak, kini ikan sidat yang dikenal juga dengan nama ikan katadromus diolah dalam bentuk Unagi Kabayaki.
Bahkan ada juga yang untuk memenuhi jaringan sushi ternama.
Di Jepang memiliki hari khusus setiap musim panas, Doyo no Ushi no Hi, hari saat warga Jepang menikmati sidat panggang yang dipercaya meningkatkan kondisi tubuh di tengah cuaca terik.
Namun demikian, International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mengkategorikan sidat Jepang (Anguilla japonica) dalam the Red List of Threatened Species.
Baca juga: 8 Drama di Semifinal Indonesia Vs Singapura, Gol Penyelamat Arhan hingga Asnawi Sujud di Depan Lawan
Baca juga: Kartu Debit Jenis Lama Diblokir, Begini Cara Tarik Saldo BCA Tanpa Kartu ATM
Baca juga: Misteri Kematian Pencuri Tanaman Hias Setelah Diamankan Polisi, Keluarga Lihat Garis Hitam di Leher
Sekitar 70 persen konsumsi sidat dunia ada di Jepang.
Hal itulah yang mendorong mereka mencari suplai sidat dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Hal itulah yang memotivasi Pelopor Koperasi Mina Sidat Bersatu, Ruddy Sutomo, mengembangkan gagasan Kampung Sidat.
"Teman saya dari Jepang bertanya apakah ada Unagi di kampung halaman.
Istilah itu begitu asing bagi saya, tetapi begitu melihat fotonya ternyata itu sejenis olahan dari ikan Sidat yang banyak di kampung saya di Cilacap," katanya kepada Tribunjateng.com, Kamis (23/12/2021).
Dia yang mulanya bekerja sebagai pengusaha rental mobil di Cikarang mencoba beralih menjadi pembudidaya sidat melihat begitu besar potensinya.
Awal 2017, ia membuat kolam sidat dengan ukuran kecil dan usahanya kala itu gagal karena kurangnya pengetahuan tentang cara membudidayakan sidat.
Pada 2018, ia mendapat pelatihan dari salah satu Profesor di Jepang terkait membudidayakan sidat sekaligus mendapat bantuan dari program Food Agricultural Organization (FAO) melalui proyek IFish.
IFish merupakan proyek FAO bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Tujuannya adalah pengarusutamaan nilai-nilai konservasi keanekaragaman hayati perairan darat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/26-12-pembudidaya-ikan-sidat-1.jpg)