Smart Women

Diana Satyarini Terpikat untuk Mengenalkan Kembali Batik Patron Khas Ambarawa

Terbiasa mengenakan pakaian tradisional Jawa, membuat Diana Satyarini tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan busana tradisional.

Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Dokumentasi Pribadi
Diana Satyarini 

TRIBUNJATENG, SEMARANG - Terbiasa mengenakan pakaian tradisional Jawa, seperti kebaya kemudian busana klasik batik semenjak kecil membuat Diana Satyarini (53) tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan busana tradisional.

Melalui organisasi yang dibentuknya pada tahun 2016, yakni Perempuan Berkebaya Indonesia Ambarawa (PBIA), ia kini tengah getol mengenalkan kembali batik patroon atau corak Ambarawa yang pernah berjaya di tahun 1927 sampai 1930 dengan harapan batik asli Ambarawa itu tetap lestari.

Diana mengatakan, batik corak Ambarawa di masa kejayaannya, sebagaimana tertuang dalam arsip yang tersimpan di Museum Leiden Belanda dan Museum Antropologis Amsterdam pernah berdiri sekira delapan pabrik dengan sejumlah toko batik yang terhitung besar di Ambarawa.

Baca juga: Setuju PTM Berjalan Penuh, DPRD Kota Semarang: Kita Tidak Mau Ada Lost Generation

Baca juga: PSIS Semarang Umumkan eks Pemain PSIM Ketiga yang Direkrut Musim Ini, Ahmad Subagja Baasith

Sehingga, sebagai warga asli Ambarawa sekaligus orang yang menyukai busana klasik, ia merasa perlu berperan melestarikan warisan asli tempat tinggal.

“Untuk sekarang dari hasil pelacakan kami mengacu informasi arsip yang ditemukan arkeolog, ada sekira 83 pola atau motif batik Ambarawa.

Namun, yang baru berhasil dibawa pulang ke Indonesia sebanyak 18 pola.

Adapun, pembatik atau pengrajin tersisa satu orang saja.

Untuk itu dengan gerakan promosi atau mempopulerkan kembali orang bisa menjadi tahu, pengrajin ada pembeli dan muaranya batik khas Ambarawa tidak hilang,” katanya

Ia menambahkan, budaya warisan leluhur berupa batik motif Ambarawa diduga produksi mulai berkurang ketika masa peralihan kekuasaan dari Belanja ke Jepang.

Akibatnya, sejak itu sudah tidak ada lagi perajin batik yang tersisa di wilayah Kecamatan Ambarawa, apalagi untuk melestarikan warisan budaya batik patron Ambarawa tersebut.

Diana menyatakan, batik patron Ambarawa merupakan batik akulturasi batik pesisir dengan batik pedalaman yang memiliki ciri warna sogan (pewarna alami) dengan motif tambal, ceplok, dan motif alam khas Ambarawa lainnya.

Atas alasan kesejarahan yang kuat itu kata dia, bersama Rumah Batik Adisty mulai memproduksi kembali 18 motif batik patron Ambarawa.

“Kami komunitas PBIA menginisiasi dan akan mendukung penuh upaya untuk membangkitkan dan mengembalikan kejayaan batik patron Ambarawa setelah lebih satu setengah abad punah.

Berdasarkan data temuan arkeolog ke-83 pola batik patron Ambarawa tertulis tahun 1876, yang diduga tahun pembuatan dari batik itu dimana itu mendorong kami sebagai orang Ambarawa asli musti berbuat sesuatu,” terangnya

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved