Smart Women
Diana Satyarini Terpikat untuk Mengenalkan Kembali Batik Patron Khas Ambarawa
Terbiasa mengenakan pakaian tradisional Jawa, membuat Diana Satyarini tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan busana tradisional.
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Pada motif tambal atau kanoman kata dia, memiliki arti kurang lebih manusia yang hidup musti memperbaiki segala sesuatu yang rusak atau menambal menuju kehidupan lahir batin yang lebih baik.
Kemudian, pada motif ceplok memuat nilai filosofis tentang kesabaran dan keikhlasan serta berani dalam menegakkan suatu kebenaran.
Maka, lewat lembaran kain batik tersebut diharapkan generasi muda sekarang bisa memetik pelajaran berharga.
Tetapi, jika batik patroon Ambarawa kemudian punah, bukan hanya fisiknya hilang lantaran tidak ada pengrajin namun juga makna filosofisnya ikut musnah.
Baca juga: Kecelakaan Bus Pariwisata di Gunungkidul, Mesin Mati di Tanjakan Kemudian Mundur Lalu Terguling
Baca juga: PSIS Semarang Umumkan eks Pemain PSIM Ketiga yang Direkrut Musim Ini, Ahmad Subagja Baasith
Baca juga: Kantor Dinas Arsip Sukoharjo Terbakar, Berawal dari Pembakaran Berkas
“Nah, bagaimana ini batik bisa booming atau populer lagi sejumlah kegiatan yang kami lakukan sementara masih terbatas seperti pameran, peragaan busana lalu pendampingan pengrajin batik. Karena, pembuatan batik yang sifatnya masih tradisional ini yang menjadi keunggulan batik patron Ambarawa selain nilai sejarahnya yang tinggi,” ujarnya.
Kendala ketersediaan perajin
Menelusuri jejak batik patroon Ambarawa diakui Diana Satyarini (53) tidak lah mudah. Selain dirinya yang bukan orang dengan latar pendidikan arkeologi maupun sejarah terbatasnya dokumentasi sejarah berkaitan batik patroon ditambah minimnya pengrajin menjadi tantangan tersendiri.
Diana mengungkapkan, perajin batik motif Ambarawa sekarang tinggal tersisa satu orang itu pun bukan warga Kecamatan Ambarawa, melainkan warga berasal dari kecamatan tetangga di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.
Hal itu lanjutnya, menyulitkan upaya pendirian pabrik batik khusus untuk memproduksi dengan skala besar batik Ambarawa.
“Meskipun begitu perlahan ini dampaknya sudah mulai terlihat, orang-orang sudah mulai paham batik Ambarawa. Lalu, permintaan batik untuk digunakan kegiatan kedinasan atau warga Indonesia di daerah lain mulai ada yang membeli, bisa dibilang gerakan kami sejak 2016 tentu berkat dibantu teman-teman arkeolog, pelaku budaya kesenian di Kabupaten Semarang mulai ada hasil,” paparnya
Perempuan asal Kabupaten Semarang itu menyatakan, dalam waktu dekat bakal mengembangkan home industry, khusus batik patron Ambarawa untuk kebutuhan industri fashion.
Sekarang ini, tahapan kampanye mengenalkan kembali masih menjadi fokus utama sebagai upaya konkrit melestarikan batik patron dan menggaet kalangan muda yang berminat menjadi perajin batik.
Lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menegaskan hal yang membuatnya bertahan dan terus melakukan berbagai upaya mengembalikan kejayaan batik Ambarawa lantaran memiliki ketertarikan khusus pada budaya asli nusantara.
Dia khawatir, apabila tidak ada orang yang berusaha menggerakkan dan mengenalkan kembali batik patroon Ambarawa akan diklaim milik negara lain.
“Saya pun tidak pernah berpikir nanti dapat untung ketika batik patroon berkembang menjadi industri besar. Sebab, itu semua saya lakukan karena suka dan dari hati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/9122-Diana-Satyarini-1.jpg)