Kamis, 14 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Diana Satyarini Terpikat untuk Mengenalkan Kembali Batik Patron Khas Ambarawa

Terbiasa mengenakan pakaian tradisional Jawa, membuat Diana Satyarini tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap keberlangsungan busana tradisional.

Tayang:
Penulis: M Nafiul Haris | Editor: moh anhar
Dokumentasi Pribadi
Diana Satyarini 

Namun, bersama komunitas berkebaya lain di Indonesia tengah mengupayakan budaya warisan nusantara, khususnya pakaian tradisional kebaya untuk diakui sebagai kekayaan tak benda di UNESCO.

“Untuk itu melalui setiap kegiatan kami baik sosial seperti program bantuan sembako bulanan kepada orang kurang mampu selalu kami tonjolkan busana kebaya.

Ini, bagian dari syarat UNESCO bahwa ada pihak-pihak secara kontinyu melakukan atau menggunakan kebaya dalam aktivitas mereka.

Melalui PBIA, kami juga aktif mendampingi anak-anak korban kekerasan seksual, kemarin saat musim vaksinasi kami juga berkontribusi 2 ribu dosis vaksin pertama dan kedua khusus wilayah Ambarawa,” ucapnya

Dirinya mengaku, beragam kegiatan itu pembiayaan ditanggung dari para anggota ditambah kerjasama dengan pihak lain yang masih satu jaringan organisasi baik di Jakarta maupun daerah lain.

Terkait khusus batik patron Ambarawa lanjutnya, apabila sejumlah rencana yang dibuat tahun ini dapat terealisasi diharapkan memberi dampak simultan bagi masyarakat di Ambarawa dan Kabupaten Semarang terutama dari sisi ekonomi.

Merasa dirinya tidak lagi muda, sebagai upaya regenerasi sekarang juga telah dibentuk komunitas Gerakan Anak Muda Berkebaya (Gaya) yang terdiri dari anak-anak muda tidak hanya dari Ambarawa namun kecamatan lain.

Kemudian, dalam perjuangan mempopulerkan batik patroon Ambara lebih jauh juga telah berdiri Komunitas Batik Patroon 1867 Ambarawa dimana inisiasi gabungan pengrajin batik dan pecinta budaya.

“Melihat fenomena itu kami optimistis batik patron Ambarawa perlahan, namun pasti akan kembali berjaya.

Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, cara produksi juga tergolong unik dan ramah lingkungan karena bahan baku pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami. Jika nanti UMKM dan galeri telah berdiri bukan tidak mungkin cita-cita mengembalikan kejayaan batik asli Ambarawa terkabulkan,” tandasnya (*)

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved