Berita Internasional
Rusia dan China Perkenalkan Pesawat yang Akan Jadi Saingan Airbus dan Boeing
Tanpa aksi marketing spektakuler, MC-21 dan C919 muncul untuk menantang Airbus dan Boeing yang sejak dulu menguasai pasar pesawat penumpang dunia.
"Menurut perkiraan, dalam 20 tahun ke depan, di Rusia saja akan diperlukan lebih dari 800 pesawat baru dengan ukuran ini,” kata Yury Slyusar, Direktur United Aircraft Corporation, perusahaan induk dari produsen pesawat Irkut.
"Setelah efektivitas pesawat di pasar domestik terbukti, kami akan merambah ke pasar internasional.”
Produsen China siap lebarkan sayap
Berbeda dengan Rusia, dari China sudah lama tidak ada berita tentang perkembangan industri pesawat komersial.
Namun, tidak berarti di sana tidak ada perkembangan.
Kebutuhan dalam negeri untuk pesawat penumpang di negara itu juga meningkat pesat.
Itulah alasan utama China mengembangkan pesawat penumpang Comac C919 dengan kapasitas 156 hingga 168 penumpang.
"Pasar pesawat Cina sendiri memiliki potensial yang memungkinkan mereka untuk menjual lebih banyak pesawar, terlepas dari jet Airbus dan Boeing yang sekarang sudah terbang di negara itu," kata Nico Buchholz, yang cukup lama bekerja di departemen pembelian pesawat di maskapan Jerman, Lufthansa.
Dia mengatakan, keuntungan lain yang dimiliki China adalah kemampuannya membuat banyak pesawat dalam waktu relatif singkat.
China sanggup membuat ratusan atau bahkan ribuan pesawat baru dengan standar kualitas tinggi, dan itu akan menjadi tantangan besar bagi yang lain, katanya.
"Karena China punya lebih banyak pengalaman dalam industri penerbangan dengan jumlah pesawat yang lebih banyak daripada Rusia, mereka lebih mungkin menjadi pesaing kuat Airbus dan Boeing,” jelas mantan direktur pembelian pesawat Lufthansa itu.
China memang belajar dari Barat, karena banyak perusahaan Barat "seperti Airbus, sudah lama mendirikan jalur perakitan akhir mereka di China.
Dan kualitasnya terkadang lebih baik daripada jet Airbus yang diproduksi di Hamburg," katanya.
Saat ini, China memang masih tertinggal dalam sertifikasi jet baru mereka, meskipun uji terbang pertama telah berhasil pada 5 Mei 2017.
Tidak kurang dari enam pesawat siap melakukan program penerbangan uji coba yang diperlukan untuk sertifikasi.
Namun, sampai Desember tahun lalu, baru 34 dari 276 penerbangan uji coba yang telah dilakukan. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Airbus dan Boeing Dapat Saingan Baru dari Rusia dan Cina
Baca juga: China Batalkan Rencana Penjualan Tiket Olimpiade karena Kasus Covid-19 Capai Level Tertinggi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pesawat_20180926_085020.jpg)