Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Rusia Makin Agresif, NATO Diminta Kirim Senjata Lebih Banyak ke Ukraina

lebih banyak bantuan militer dan bantuan keamanan ekstra kemungkinan akan datang ke Ukraina.

Editor: Vito
Anatolii STEPANOV / AFP
Seorang prajurit Pasukan Militer Ukraina berjalan di parit, garis depan perbatasan dengan Rusia, dekat desa Luganske, wilayah Donetsk, 11 Januari 2022. 

TRIBUNJATENG.COM, JENEWA - Tekanan pada Jerman meningkat dari sekutu Eropa agar segera ikut memasok senjata ke Ukraina, demi membantu negara itu mempertahankan diri dari serangan Rusia.

Inggris sebelumnya telah menerbangkan rudal anti-tank jarak pendek ke Ukraina pada Senin (17/1).

Kepada anggota parlemen, Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace menekankan bahwa lebih banyak bantuan militer dan bantuan keamanan ekstra kemungkinan akan datang.

Hal itu mengingat perilaku yang semakin mengancam dari Rusia di perbatasan Ukraina, di mana Kremlin telah mengumpulkan lebih dari 100.000 tentara.

Wallace mengatakan, ada alasan yang sah dan nyata untuk mengkhawatirkan bahwa Rusia sedang merencanakan invasi.

Para pejabat Rusia telah membantah mereka memiliki rencana semacam itu. Tetapi, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memperingatkan pada Rabu (19/1), menjelang pembicaraan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, bahwa rasa ancaman terhadap Ukraina belum pernah terjadi sebelumnya.

Ukraina menjadi semakin frustrasi dengan Jerman dalam masalah pasokan militer. Hal itupun sempat dikeluhkan Menteri Pertahanan Ukraina, Oleksii Reznikov.

Kiev telah berjuang mengatasi kekurangan peralatan dan kemampuan militer. Tetapi Berlin khawatir bahwa memasok senjata dapat dilihat oleh Moskow sebagai provokatif, dan dapat memicu eskalasi Rusia.

Reznikov telah memperingatkan bahwa ketakutan menghadapi Putin dari posisi yang kuat adalah salah arah. “Tidak memprovokasi Rusia, strategi itu tidak berhasil, dan tidak akan berhasil,” katanya bulan lalu.

Ukraina telah membeli senjata melalui kesepakatan dengan AS, Inggris, Lithuania, Prancis, dan Turki, yang telah memasok drone bersenjata.

Sistem anti-rudal dan anti-pesawat, peralatan perang elektronik, dan peralatan pertahanan siber berada di urutan teratas dalam daftar belanja Ukraina.

Negara itu juga ingin membeli rudal permukaan-ke-permukaan, yang dapat menyerang kawanan target secara bersamaan. Pemerintahan Biden bulan lalu menyetujui 200 juta dollar AS (Rp 2,8 triliun) dalam bantuan keamanan defensif tambahan untuk Ukraina.

Pejabat AS, pada Rabu (19/1), mengatakan, Gedung Putih sedang mempertimbangkan opsi pasokan baru, untuk mencoba menaikkan risiko bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, jika dia memutuskan untuk menyerang.

Dengan meningkatnya kekhawatiran bahwa Rusia bermaksud melakukan tindakan agresif besar-besaran, Washington sedang mempertimbangkan untuk menyediakan lebih banyak rudal anti-tank Javelin, dan sistem rudal anti-pesawat kepada tentara Ukraina.

Rudal anti-tank yang diterbangkan Inggris ke Ukraina minggu ini adalah senjata baru yang mampu menghancurkan tank dari jarak 800 meter. Senjata itu lebih ringan dari rudal anti-tank Javelin, dan dapat digunakan di ruang yang jauh lebih sempit.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved