Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Konflik Rusia dan Ukraina

Pasukan Rusia Intensifkan Serangan Perkotaan Ukraina, Warga Sipil Kian Terancam

Rusia mengatakan tidak menargetkan warga sipil, tetapi Ukraina telah melaporkan ribuan kematian non-pejuang. Laporan sebelumnya mengatakan bahwa pasuk

Editor: m nur huda
Selebaran / Layanan Darurat Negara Ukraina / AFP
Gambar selebaran yang dirilis Layanan Darurat Negara Ukraina pada 11 Maret 2022, menunjukkan pasukan penyelamat bekerja di dekat sebuah gedung yang hancur di lokasi serangan udara di Dnipro, Ukraina. 

TRIBUNJATENG.COM, KYIVRusia kembali menyerang Ibu Kota Ukraina, Kyiv, pada Senin (14/3). Rusia telah menggempur kota-kota di Ukraina, termasuk berbagai fasilitas umum, tapi serangan itu sempat terhenti di Kyiv.

Hal itu terjadi setelah Rusia dianggap gagal dalam apa yang diyakini negara-negara Barat sebagai rencana awal untuk melakukan serangan kilat di Ibu Kota.

Pasukan Rusia telah mengintensifkan serangan mereka di daerah perkotaan di Ukraina lebih dari dua minggu setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim pasukan ke negara itu pada 24 Februari.

Rusia mengatakan tidak menargetkan warga sipil, tetapi Ukraina telah melaporkan ribuan kematian non-pejuang. Laporan sebelumnya mengatakan bahwa pasukan Rusia telah menyebabkan bencana kemanusiaan terburuk di Mariupol.

Di kota pelabuhan Mariupol saja, tercatat lebih dari 2.100 penduduk Ukraina telah tewas sejak invasi Rusia dimulai. Dewan Kota Mariupol di Telegram mengatakan pada Minggu (13/3), menyebut, pasukan Rusia telah membunuh 2.187 penduduk Mariupol.

"Setiap hari Mariupol menderita serangan udara oleh fasis Rusia. Setidaknya 22 pemboman kota damai selama 24 jam terakhir. Sekitar 100 bom telah dijatuhkan di Mariupol," bunyi pernyataan itu, sebagaiman dikutip dari ukrinform.net.

"Setiap pemboman membawa kehancuran yang mengerikan dan menghilangkan kehidupan Mariupol yang damai. Hingga saat ini, 2.187 warga Mariupol telah tewas akibat serangan Rusia. Semoga kenangan mereka hidup selamanya," kata pernyataan itu.

Dewan Kota juga menyatakan bahwa situasi di Mariupol masih sangat sulit. Tidak ada listrik, air, panas, hampir tidak ada komunikasi seluler di kota, serta kehabisan makanan dan air.

"Hari ini (Minggu-Red), kaum fasis Rusia terus membom kota itu dari pesawat. Sektor perumahan di persimpangan Jalan Nakhimova dan Jalan Italiiska ditembaki. Selain itu, ada laporan tentang penembakan gedung Universitas Negeri Mariupol," bunyi pernyataan itu.

Serangan Rusia menjadi ancaman terbesar bagi 400.000 penduduk Mariupol, yang saat ini terjebak di kota.

"Oleh karena itu, penutupan langit (larangan terbang) oleh NATO di atas Ukraina atau penyediaan sistem pertahanan udara yang diperlukan adalah solusi yang dapat menyelamatkan ratusan ribu nyawa tak berdosa di seluruh Ukraina," kata Dewan Kota.

Pada Senin, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah memperbarui seruannya kepada NATO untuk memberlakukan zona larangan terbang, menyusul serangan di dekat kota barat Lviv.

"Jika Anda tidak menutup langit kami, hanya masalah waktu sebelum rudal Rusia jatuh di wilayah Anda, di wilayah NATO, di rumah warga NATO," ucap Zelensky, dalam sebuah rekaman video.

Serang pangkalan militer

Adapun, diperkirakan sebanyak 30 rudal Rusia menghantam pangkalan besar militer milik Ukraina di dekat perbatasan dengan anggota NATO, Polandia pada Minggu (13/3).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved