Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Krisis Kemanusiaan Terjadi di Mariupol, Rusia Terus Gempur Ukraina

Kota ini terus-menerus diserang oleh Rusia, dengan sekitar 350.000 penduduk terperangkap tanpa bantuan makanan dan persediaan medis.

Editor: Vito
SERGEY BOBOK / AFP
Petugas pemadam kebakaran bekerja untuk memadamkan api di kompleks bangunan yang menampung layanan keamanan Kharkiv dan polisi regional yang terkena serangan bom oleh Rusia, di Kharkiv, Ukraina, Rabu (2/3/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, MARIUPOL - Serangan Rusia ke Ukraina menginjak hari ke-23 pada Jumat (18/3). Pasukan Rusia terus meningkatkan serangan ke kota-kota besar Ukraina, menghancurkan berbagai fasilitas vital, namun belum dapat menguasai.

Pasukan Rusia telah memasuki rumah sakit terbesar di kota Mariupol, Ukraina selatan, dan mencegah dokter dan pasien meninggalkan gedung, kata wakil wali kota itu, Sergei Orlov.

Ia mengatakan kepada BBC, sekitar 400 orang di Rumah Sakit Perawatan Intensif Regional telah disandera. "Kami menerima informasi bahwa tentara Rusia merebut rumah sakit terbesar kami," kata Orlov, sebagaimana dilansir BBC, Selasa (15/3) lalu.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, gubernur wilayah Donetsk, Pavlo Kirilenko mengatakan, seorang pekerja rumah sakit telah memperingatkan pihak berwenang tentang situasi tersebut.

Rumah sakit itu, katanya, sama dengan yang dirusak oleh serangan Rusia pekan lalu. Lima orang tewas.

Selama hampir dua minggu, kota itu telah dikepung oleh pasukan Rusia dengan gas, air mengalir, dan listrik terputus.

Pihak berwenang setempat mengatakan, setidaknya 2.500 kematian telah dikonfirmasi di kota itu.

Mariupol adalah pusat dari krisis kemanusiaan yang berkembang, karena makanan dan persediaan medis habis, dan bantuan tidak diizinkan masuk.

Kota ini terus-menerus diserang oleh Rusia, dengan sekitar 350.000 penduduk terperangkap.

Pada Selasa (15/3), baru sekitar 2.000 orang berhasil meninggalkan Mariupol, kata dewan setempat, dan 2.000 orang lainnya menunggu untuk pergi. Namun, tidak ada bantuan yang diizinkan masuk.

Khusus di kota pelabuhan Mariupol, ratusan orang juga berdesakan di ruang bawah tanah sebuah gedung publik besar. Wilayah yang terkepung ini kehabisan makanan, dengan banyak juga yang membutuhkan bantuan medis mendesak.

"Beberapa telah mengembangkan sepsis dari pecahan peluru di dalam tubuh," kata Anastasiya Ponomareva, seorang guru berusia 39 tahun yang melarikan diri dari kota pada awal perang, tetapi masih berhubungan dengan teman-teman di sana.

Teman-teman Ponomareva bersama keluarga lain berada di ruang bawah tanah gedung. Mereka semua telah meninggalkan rumah yang tidak lagi aman atau tidak lagi berdiri.

"Orang-orang yang berhasil bersembunyi di tempat penampungan bawah tanah pada dasarnya tinggal di sana secara permanen," kata Ponomareva dari kota barat Drohobych, tempat dia tinggal. "Mereka praktis tidak bisa pergi sama sekali," tukasnnya.

Dia diberitahu bahwa kondisi dengan cepat memburuk, karena beberapa orang mengalami demam, dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengobati mereka. "Tidak ada bantuan medis, tidak ada antibiotik," tuturnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved