Berita Solo

Gudeg Ceker Bu Kasno, Makanan Khas Kota Solo yang Sudah Ada Sejak 1960an

Kota Solo sudah sejak lama terkenal dengan wisata kuliner, terlebih pada malam hari. Bak kota yang tak pernah tidur

Muhammad Sholekan
Suasana Warung Gudeg Ceker Bu Kasno yang berada di Jalan Monginsidi, Banjarsari, Kota Solo saat dini hari atau saat waktu sahur. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO -- Kota Solo sudah sejak lama terkenal dengan wisata kuliner, terlebih pada malam hari. Bak kota yang tak pernah tidur, banyak penjual makanan justru beroperasi pada malam hari. Bahkan, saat Ramadhan saat ini keberadaan wisata kuliner itu menjadi pilihan santapan sahur.

Ya, satu di antara kuliner di Kota Solo yang menjadi andalan yakni Gudeg Ceker Margoyudan Bu Kasno yang berada di Jalan Monginsidi 41-43, Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari.

Secara tampilan, mungkin tampak sederhana, hanya spanduk merah penanda bertuliskan nama warung. Namun, antrean pelanggan memberi tanda bahwa warung yang bertahan selama tiga generasi itu sangat dicari.

Setiap hari, warung gudeg yang memiliki ciri khas cenderung asin itu buka pukul 01.30 dan usai melayani pelanggan pukul 07.00. Dari semula melayani sopir-sopir bus malam di sepanjang Jalan Monginsidi, kini wisatawan dalam dan luar negeri jadi pelanggannya.

Sekarang, warung tersebut dinahkodai oleh Windiartati (55), yang merupakan anak perempuan dari pemilik sebelumnya, Bu Kasno.

”Nenek kami yang pertama kali memulainya sekitar tahun 1960-an. Kalau ibu (Bu Kasno) sejak tahun 1970-an,” ungkapnya belum lama ini kepada Tribun Jateng.

Dia menuturkan, warung gudegnya punya banyak keunikan dibandingkan tempat lain. Selain menyajikan gudeg basah dengan cita rasa gurih seharga Rp 15.000-Rp 28.000 per porsi, ada ceker yang jadi andalannya.

Wabil khusus untuk ceker, dijual dengan harga Rp 4.000 per buah. Satu porsi ceker biasanya terdiri atas 10 ceker atau bergantung selera konsumen.

Di warung tersebut menyimpan kisah unik di balik munculnya menu ceker. Semula, menurut Windi, lauk yang disajikan hanya ayam, tahu, dan telur. Olahan itu baru mulai dikenalkan pada tahun 1980-an saat Bu Kasno mengelola warung.

”Dulu ada tetangga jual daging ayam. Cekernya tidak laku. Lalu, kami beli dan coba-coba bikin. Ternyata, malah jadi yang dicari-cari pelanggan. Waktu itu hanya kami yang jual gudeg ceker,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya bisa memasak 20-30 kg ceker dalam sehari di hari-hari biasa. Di akhir pekan, jumlah cekernya menjadi 30-40 kg per hari.

Jumlah tersebut relatif menurun dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Waktu itu, ia membutuhkan ceker sekitar 100 kg per hari. Bahkan, sempat beberapa kali guna memenuhi kebutuhan, ceker dibeli dari Yogyakarta.

Sementara itu, satu di antara pelanggan, Eko Yudia (41), mengaku selalu kepincut dengan ceker Gudeg Bu Kasno. Cekernya empuk dan lembut di mulut. Daging dan tulangnya seperti bisa terpisah sendiri. 

”Istilahnya, mreteli,” jelasnya.

Saat Ramadhan, menurutnya, Gudeg Bu Kasno jelas tidak boleh terlewat. Momen istimewa harus dilalui di tempat terbaik.

”Hitung-hitung menambah kebersamaan keluarga. Kan, semuanya sudah sibuk. Anak juga sudah besar-besar. Biar ada waktu bersama,” tandasnya. (*)

Baca juga: Insan Pengayoman Kanwil Kemenkumham Jateng peringati Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-58

Baca juga: Mudik Ke Demak? Hati-Hati Lewat Jalan Ini

Baca juga: BREAKING NEWS : Pelaku Pembakaran Istri & Anak di Kudus Meninggal Dunia, Kasus Ditutup‎

Baca juga: Dindukcapil Purbalingga Jamin Stok Blanko E-KTP Cukup Hingga Lebaran

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved