Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Tawarkan Tembok Laut Raksasa, Solusi Tanggulangi Banjir Rob di Teluk Semarang

Satu di antara sekian solusi untuk menanggulangi rob di Teluk Semarang, selain sabuk pantai adalah tembok laut raksasa (Giant Sea Wall).

Penulis: galih permadi | Editor: m nur huda
KOMPAS.com/M ZAENUDDIN
Warga melintas di areal tanggul laut, Muara Baru, Jakarta Utara, Sabtu (12/10/2019). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengambil alih pembangunan segmen tanggul laut National Capital Integrated Coastal Development ( NCICD) di utara Jakarta. 

TRIBUNJATENG.CM, SEMARANG - Seorang konsultan dalam liputan khusus Tribun Jateng delapan tahun lalu menawarkan konsep tembok laut raksasa (Giant Sea Wall). Giant Sea Wall berfungsi untuk menanggulangi rob di Teluk Semarang hingga kejadian rob di pantura, sejak Senin (23/5) diklaim bisa teratasi.

Adalah John Wirawan yang mengeluarkan ide konsep ini.

Satu di antara sekian solusi untuk menanggulangi rob di Teluk Semarang, selain sabuk pantai adalah tembok laut raksasa (Giant Sea Wall).

Berikut wawancara John Wirawan dalam liputan khusus Tribun Jateng pada Kamis 8 Mei 2014:

Direktur Utama di PT Ecolmantech Consultant, John Wirawan selama 20 tahun terakhir terus mempresentasikan idenya tentang Giant Sea Wall (GSW) atau Dam Lepas Pantai (DPL) ke berbagai pihak mulai dari mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, mantan Gubernur Jateng Mardiyanto, mantan Wali Kota Semarang Soemarmo hingga Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

"Apa yang saya perjuangkan selama ini bukan hanya sekadar proyek. Tapi juga untuk pembelajaran," katanya, Rabu (7/5), sembari menunjukkan tanda tangan 40 profesor terkemuka Indonesia yang menyetujui idenya tentang penanganan banjir dan rob di Pantura Jawa tersebut.

Ia lalu bercerita, awal mulanya keresahannya atas banjir dan rob terjadi pada 1990-an. Waktu itu melihat banjir dan rob melanda Kota Semarang. Dan hasil penelitiannya cukup mengejutkan.

Mula-mula, John menunjukkan keadaan Jawa Tengah, terutama Semarang saat Laksamana Cheng Ho datang.

Waktu itu, daratan Kota Semarang saat ini kebanyakan masih laut. Sungai Kaligarang waktu itu punya lebar 1 kilometer dan kedalaman 50 meter.

Kenapa Cheng Ho mendarat di Semarang? Menurutnya hal itu karena arus dari Laut China Selatan mengarah langsung ke Jawa. Tempat paling strategis untuk mendarat adalah Jateng.

Lambat laun, arus dari lautan membuat reklamasi pantai alami hingga berbentuk seperti sekarang.

Perusakan terhadap alam pun semakin masif. Kota Semarang tidak hanya berhadapan dengan penurunan laut, tapi hilangnya humus (yang berfungsi untuk menyerap air) serta hutan.

Hal itu tidak hanya menimbulkan rob karena penurunan tanah di utara Jawa (Kota Semarang), tetapi juga masalah di sungai di Kota Semarang.

Hal itu tampak dari dangkalnya sungai di Kota Semarang, warna cokelat hingga terkadang ada bau busuk di sungai Semarang. Baginya semua itu berhubungan. "Belum lagi air laut sudah masuk jauh ke daratan hingga bercampur dengan air tanah," tuturnya.

Jebolan perguruan tinggi di Jerman itu lalu punya ide yang disebutnya sebuah sistem kecil dari sebuah sistem lingkungan yang besar. Ia pun menggagas teknologi Dam Lepas Pantai (DPL).

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved