Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Presiden Ukraina Zelensky: Ini Adalah Perampokan Paksa

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengecam tindakan Rusia yang menyatakan keinginan untuk berunding tetapi terus melakukan serangan.

Tayang:
Editor: m nur huda
AFP via KYIV POST
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky saat mengunjungi garis depan konflik melawan separatis yang didukung Rusia di Donetsk, 11 Februari 2021. Foto ini dirilis oleh kantor pers kepresidenan Ukraina. 

TRIBUNJATENG.COM - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengecam tindakan Rusia yang menyatakan keinginan untuk berunding tetapi terus melakukan serangan.

Ia mengatakan, Rusia pertama-tama menembak dan kemudian mereka mengatakan bahwa mereka siap untuk bernegosiasi.

"Beginilah aksi teroris. Mereka mengatakan bahwa kami (Rusia) tidak dapat melihat Anda di NATO, dan kemudian mereka menembak kami dan mereka merebut tanah kami. Inilah yang dilakukan teroris selama ini," katanya, dalam webinar yang diselenggarakan FPCI pada Jumat (27/5/2022).

Zelensky berujar, ketika Rusia memutuskan untuk berhenti menjadi teroris dan mengakui kesalahan berdarah yang telah mereka lakukan, maka Ukraina bersedia untuk bernegosiasi.

Ia mengutuk tindakan Presiden Putin dan menekankan bahwa Ukraina tidak akan pernah menyerah berperang melawan Rusia.

“Ini bukan sekadar agresi dari suatu negara, tetapi ini adalah perampokan paksa terhadap suatu wilayah. (Rusia) tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa hukuman,” ujarnya.

Zelensky menyatakan, selama 3 bulan, pesawat militer Rusia telah terbang di atas langit Ukraina.

Rusia juga telah menghancurkan hampir 2000 institusi pendidikan dan menyerang gereja, masjid, dan tempat-tempat keagamaan lain.

"Baru kemarin, Karkhiv, salah satu kota kami, memiliki sembilan korban. Salah satunya adalah seorang anak kecil, ayahnya dipukul dan ibunya terluka parah. Inilah kenyataan yang kami hadapi sejak 24 Februari," ujarnya.

Ia menegaskan, rakyat Ukraina ingin tinggal di negaranya sendiri. Ukraina tidak ingin wilayah siapa pun dan tidak menginginkan apa pun dari siapa pun.

"Kami tidak akan berperang ke tanah negara lain,” tukasnya.

Zelensky mengungkapkan, Ukraina menyesalkan bahwa tidak ada kemajuan substansial dalam negosiasi damai dengan Rusia, dan menegaskan kembali keinginan Ukraina untuk bernegosiasi untuk mengakhiri krisis kemanusiaan dan hidup damai di tanah air mereka sendiri.

“Saya tidak dapat melihat kemajuan substansial. Saya belum menerima tanggapan substansial dari mereka (Rusia) atas proposal untuk menghentikan perang ini sejak awal negosiasi," ucapnya.

"Hanya ada satu alasan saya ingin melanjutkan negosiasi, agar krisis kemanusiaan bisa berhenti, dan kita bisa kembali ke tanah kita sendiri,” lanjutnya.

Sementara itu, The Guardian melaporkan bahwa Ukraina memohon senjata berat untuk mengusir pasukan Rusia di wilayah Donbas timur.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved